KELOMPOK STUDI PENDIDIKAN BERKUALITAS (THE STUDY GROUP FOR QUALITY EDUCATION)

Memperindah Indahnya Budaya Ilmiah ( IN PURSUIT OF INSTILLING SCIENTIFIC CULTURE)

JA slide show
ganeshana.org
GERAKNYA ZAMAN
Written by Hadiwaratama   
Friday, 06 January 2012 08:27

GERAKNYA  ZAMAN
Oleh : Hadiwaratama



Macet.
Pada tahun-tahun '67-'70 an, bepergian pakai kendaraan pribadi dari Bandung ke Cirebon memakan waktu rata-rata 2.5 jam, Jalanpun lengang,pada hal masih sempit. Tak banyak kendaraan yang lewat.Umumnya hanya kendaraan bus penumpang antar kota, atau truk barang. Ukuran bus maupun truk masih kecil-kecil. Kendaraan bikinan Jepang masih belum banyak.Umumnya kendaraan bikinan Amerika. Kendaraan pribadi masih jarang,itupun masih bikinan Amerika atau Eropa. Tak pernah ketemu pasar tumpah disepanjang perjalanan. Bila bepergian, masyarakat hanya pakai bus,yang cuma sedikit pula jumlahnya,dan tertentu juga jadwal perjalanannya. Kereta api Cirebon - Kadipaten masih jalan. Istilahnya kereta feeder,yang dulunya dirancang untuk mengangkut hasil pabrik-pa brik gula sepanjang daerah Cirebon-Palimanan -Kadipaten.Jadi memang dimaksud sebagai jalur logistik industri gula. Masyarakat sekaligus memanfaatkannya. Mobilitas penduduk atau masyarakat masih kecil sekali. Oplet atau angkot,apalagi engkel belum ada. Dokar masih menjadi moda transportasi jarak dekat. Grobag masih menjadi sarana angkutan barang.Dari Bandung ke Sumedang hanya memakan waktu paling lama 1 jam,pada hal belum ada by pass ataupun jalan toll. Karena itu sekalipun jalan masih sempit,perjalanan bisa lancar karena lengang-lengang saja.
Antara tahun-tahun '55-'60,bahkan lebih lengang lagi. Orang takut berkendaraan sore -malam hari,takut disergap gerombolan DI Kartosuwiryo. Jadi kalau mau ke Bandung, berangkat dari Cirebon paling lambat berangkat pukul 16.00,kalau berkendaraan. Lewat waktu tsb,hanya orang nekad yang berani. Demikian juga dari Bandung ke Cirebon.
Kecilnya mobilitas masyarakat ini ditandai dengan banyaknya penduduk disepanjang jalan Cirebon-Bandung yang belum mampu berbahasa Indonesia.Bagi yang tak paham bahasa Sunda, sulit berkomunikasi dengan para penjual jajanan maupun buah dipinggir-pinggir jalan.Harus ada yang menolong,atau pakai bahasa Tarsan. Bandingkan dengan sekarang ! Mereka sudah mahir berbahasa Indonesia.
Selasa tgl 27 Desember 2011,kami berangkat dari Bandung pukul 11.30. Ternyata sudah siangpun masih macet. Biasanya kami lebih suka lewat jalan arah Cicalengka sesudah keluar toll di Cibiru. Sampai di Pasir Muncang belok kiri,sekalipun jalan sempit tapi lancar.Paling juga ojek yang lewat. Keluarnya sudah hampir sampai di Cadas Pangeran (Kornel ?).
Karena Jln Pasir muncang sekarang rusak,dan Unpad sudah liburan semester,kami lewat jalan lama. Wuah ternyata macet,laju kendaraanpun pelan merayap, mengesalkan. Bus dan truk buesar-buesar serta panjang-panjang ukurannya,berderet-deret merayap.
Di pengkolan-pengkolan tajam, kendaraan kendaraan tsb sulit bersimpangan dengan sesama bus atau truk. Terpaksa berhenti menunggu sampai yang dari depan lewat. Yang mengherankan truk-truk batu bara dari Cirebon yang buesar-panjang beroda 10 kok diijinkan jalan lagi ? Beberapa waktu yll pernah dilarang, diprotes masyarakat karena suka bikin macet ditanjakan . Terlebih -lebih waktu musim hujan, dikuatirkan bisa memperlemah jalan Cadas Pangeran yang rawan longsor itu. KPK rupanya tak mampu menjangkau masalah tsb kali ? Demikian juga terhadap truk-truk pasir yang beroda 10 tsb !
Dengan kondisi jalan sempit dan rawan lonsor, apakah untung dari pajak bisa menutup kerugian perbaikan jalan yang selalu lekas rusak itu ?

Hujan Lebat.
Dengan hujan angin yang lebat dan bersahu tannya petir, ternyata memperlambat lajunya kendaraan. Bandung-Sumedang ditempuh sampai 2 jam. Bandung-Cirebon jadi 4.5 jam. Memang selama ini biasanya rata-rata perlu waktu 4 jam. Bukan lagi 2.5 jam ! Mobilitas masyarakat begitu tinggi sekarang. Mereka sudah pandai berbahasa Indonesia !
Masuk toll Kanci di Cirebon lanca-lancar saja,nyaman dan murah lagi. Tetapi begitu masuk Toll Pejagan,swasta, terasa seperti jalan diatas polisi tidur. Duk-duk-duk gemluduk terus. Pada hal investornya Ir,sekalipun Elektro. Dari ITB pula ! Apa nunggu stabil-padat dulu ,baru kemudian dilapisi hot mix ? Tapi ndak ada yang mempersoalkan juga,apa lagi yang berwenang ?

Lapar.

Biasanya kami selalu mengatur perjalanan sehingga pas makan siang atau malamnya di RM yang telah lebih 20 tahun menjadi langganan kami. Namun sejak terakhir kami makan disitu,cita rasanya sudah bukan selera kami lagi.Selama iniTaciknya selalu memasak kan sendiri bila kami berkunjung. Maklum sudah seperti sahabat saja hubungannya. Sayang sekali Ibu yang baik itu sudah meninggal sekitar Lebaran th 2011 yll. Cita rasanya kurang sesuai lagi dengan selera kami: seafood Pemalang,uenaa...k,murah meriah . Entah kalau dikasih murah ? Kami tak pernah tanya harga,pokok nya semua berapa habisnya.Mungkin tak tega juga,karena suka cerita juga perjuangan menyekolahkan anak-anaknya ke Perti di Bandung dan Salatiga. Dulu ketika suaminya baru-baru meninggal,dia menangis ketika kami berkunjung. Mungkin melihat kami,jadi ingat suami nya yang selalu ngobrol akrab menemui kami sambil nunggu masakan isterinya disajikan.
Ketika kami mampir tanpa ibunya anak-anak,dia tanya : Ibu mana Pak ? Ketika saya beritahu bahwa kami baru pulang dari memakamkan Ibu di Ambarawa,dia menangis ngguguk ! Ternyata terjadi hubungan tali rasa yang mendalam sesudah puluhan tahun jadi pelanggan loyalnya di kota kecil itu !
Nah di Pemalang itulah kami coba cari tempat ampiran baru,yang kami temukan secara tidak sengaja. Sate Lousso, dari daging sapi yang empuk,pas manisnya,sedap bumbunya,dan ciamik sambal kacangnya,bagai sambel kacang sate gendong Klaten yang ngundang selera itu. Ada soup dagingnya juga,campur taoge, segar dan khas aromanya. Sepuluh tusuk cuma Rp.22.000,- besar-besar lagi. Laki-laki cukup 5 tusuk saja,kalau 10 bagaimana ngabiskannya ? Memang uena...ak !  Sate ini sudah turun temurun sejak jaman Belanda,langganannya Belanda-Belanda perkebunan didaerah Tegal-Slawi dan sekitarnya. Yang punya RM ternyata tidak tahu,mengapa Tuan-Tuan perkebunan itu menamai Lousso ? Sayang hanya itu saja jualannya,masih perlu cari yang lain. Namanya RM Pah In, Jln Urip Sumoharjo 13,Pemalang.

Panen Gadu.

Selesai nyate,berangakat lagi dan sampai di rumah adik di Semarang pukul 22.00. Ir dari SONY memanggilnya Mr Karuno. Sampai sekarang kami panggil oom Karuno. Manggil Rukmana mahasiswa FT juga Mr Rukumana . Menyesal sekali Rukmana meninggal tengge lam ketika berenang di swimming pool di Kaltim. Dia baru beberapa bulan saja kerja di Kaltim sesudah tamat dari FT-ITB.
Akhirnya kami sampai di rumah Ambarawa pukul 23.30. Capai sekali !
Dipagi harinya saya baru lihat banyak sekali gabah padi bertumpuk didapur,pendapa dan garasi. Semua halaman pun penuh jemuran gabah. Baru panen Gadu rupanya !
Gadu adalah masa tanam yang kedua,dimusim kemarau,sehingga panennya di musim hujan.Masa tanam pertama dimusim hujan,padi Rendengan namanya. Panennya justru di musim kering.
Mengeringkan padi Gadu selalu jadi masalah karena selalu berpacu dengan hujan. Sebaliknya tak ada masalah dengan padi Rendeng,karena selalu musim kering panennya. Hanya bila gabah sudah kering benar dan bersih maka baru disimpan di lumbung.

Budi daya padi.
Biasanya bertanam padi diserahkan pada penggarap sawah. Pada jaman kolonial Belanda,penggarap hanya dapat 1/3 hasil panennya. Benih dari pemilik sawah. Pupuk unorganik belum ada. Yang ada pupuk kandang. Itu sebabnya petani selalu punya ternak,sebagai sumber pupuk ataupun asset.
Jaman Jepang tetap sama saja aturannya,bahkan ditambah harus setor gabah ke Pemerintah tanpa dibeli/gratis. Menyumbang saudara tua dalam Perang Asia Timur Raya, begitu orang Jepun menyemangatinya. Bahkan tiap keluargapun harus sumbangkan emas intan perhiasannya. Itu belum,desapun harus ngirim orang yang masih kuat untuk ikut romusha.Ternyata mereka itu akhirnya menjadi pekerja paksa,tanpa gaji bak tawanan perang atau budak belaka. Mereka banyak yang tak kembali kampung,dan banyak yang tewas atau hilang !
Sejak merdeka ,penggarap dapat bagian 50 % dari hasil panen,tapi benih ataupun pupuk penggarap yang tanggung.Sekarang semua itu ditanggung pemilik.

Berubah.
Kalau diperhatikan benar,sekarang tak ada lagi kepang, alas jemur padi dan hasil-hasil pertanian lainnya. Sudah diganti dengan alas plastik. Tak ada lagi widig,untuk jemur tembakau,kecuali di petani-petani khusus tembakau seperti di Temanggung. Tak ada lagi lesung untuk menumbuk padi,karena ada jasa penggilingan padi dengan mobile huller,ataupun perusahaan penggilingan padi.
Tak ada lagi tumpukan merang dirumah-rumah,karena padi sudah dirontoki di sawah. Karena itu tak ada lagi jamur merang dikebun atau halaman.
Dulu orang potong/tuai padi dengan ani-ani,sekarang pakai arit/clurit yang dulu dilarang. Dulu penuai padi hanya perempuan saja,pakai ani-ani. Lelaki tak telaten dengan ani-ani ini. Sekarang siapapun boleh menuai padi pakai arit. Ketika masih dengan ani-ani,padi masih nempel ditangkainya,dan dibawa pulang kerumah pemilik untuk di-iles dan ditampi supaya bulir padinya bersih. Merang biasanya ditumpuk di kebun. Karena tak ada by product merang lagi,saya beli 1 ikat kuecil saja dipasar harganya Rp.1000,- Pantesan sekarang tak ada alat-alat dari merang lagi. Tapi didapur saya masih lihat bangkai lesung panjang,yang dulu buat kothèkan ketika numbuk padi. Banyak yang sekarang hanya jadi nostalgia, tak ada lumpang, lesung, alu/antan, tampah, tampir dll peralatan dapur tsb.
Pogo tempat naruh gèdèngan jagung diatas perapian dapurpun kosong saja. Apa lagi nasinya, bukan lagi makanan pokok kedua penduduk desa. Semua dari beras . Cilakanya ribuan hektar sawah hilang tiap tahunnya. Akhirnya import beras,termasuk untuk penduduk di Indonesia bagian Timur yang tadinya sagu dan umbi-umbian sajian utamanya. Umbi-umbian pun tinggal ketela pohon dan ubi jalar,dari sekian banyak macam yang dulu sebagai diversipikasi pangan. Buahpun diimpor saja.
Jadi sebenarnya Pendidikan kita itu untuk apa ? Sekedar menghasilkan konsumer produk- produk bangsa lain ?

Masapun berlalu.
Mengenang masa kecil-sekolah SR,memang menimbulkan nostalgia.
Zaman Belanda,jalan Ambarawa - Magelang itu mulus beraspal,tapi lengang+lengang saja,jarang auto, bus maupun prahoto lewat,kadang-kadang saja. Yang banyak dokar/bendi,gerobak besar yang ditarik 2 sapi Benggala. Sepeda ? Itu masih barang mewah,tak terjangkau oleh petani. Hanya pegawai gubermen yang mampu beli.
Jaman Jepang lebih parah lagi,jalanpun pada rusak,tak ada lagi pemeliharaan. Awal-awal Republik,susah sekali. Maklum habis perang,tapi semangat kemerdekaan membuat orang bergairah.
Sekalipun jalanan rusak pada awal-awal kemerdekaan,senangnya bisa main sepak bola atau kasti di jalan raya.Hampir tidak ada kendaraan yang lewat ! Sekarang mau menye brangpun sulitnya bukan main. Bising lagi.
Dulu bisa naik kerbau sambil digembala di rerumputan sepanjang pinggiran jalan.
Disawah, saat musim menggaru asri rasanya,bisa ikut naik dibatang garu. Selalu terdengar dendang tembang macapat penggarunya,supaya kerbau rajin narik garunya. Burung- burung jalak suka nangkring dipunggungnya. Blekok putih,jangak,kontul dan mliwis di lumpur sawah yang rata halus,cari makanan,entah wader,precil,sumpil,keyong dll kesukaannya. Sekarang tak ada lagi itu,sudah ganti gemuruh nya traktor ! Burung-burung pun menghilang. Kalau toh masih,seekor dua saja. Jaringan irigasipun banyak yang rusak,kurang dirawat.
Jadi kedesa itu mau cari apa ? Kicau burungpun tak ada lagi,kokok dan kotek ayampun tak terdengar. Apalagi ringkik kuda,lenguh lembu,bahkan suara sowang dan enthog pun  tak ada lagi. Mengembeknya kambing dan domba,memang masih terdengar,sekalipun jarang-jarang saja.

Serba instan.
Suasana damai,akrab,dan mesranya kekeluargaan di pedesaan kok sepertinya tinggal nostalgia belaka.
Dulu jauh -jauh hari saudara dan tetangga sudah kumpul melakukan persiapan bila kita mau punya kerja. 35 hari sebelum hari ha, sudah mulai berdatangan. Semakin lama mendekati hari-ha semakin riuh tawa ria dirumah,hampir tak mengenal gulitanya malam.
Sekarang tak ada lagi sibuknya dapur,semua sudah oleh catering. Semua tinggal pesan,apapun yang diperlukan termasuk hiasan janur dll. Hanya pyêng sejenak diwaktu acara puncaknya. Sesudah usai acara rumahpun segera lengang,semuanya kembali kerumah msing-masing. Tak terasa habis ada hajatan.Makananpun tinggal sedikit sisa-sisa catering. Rasanya kosong saja . Dan itu suasana di umumnya masyarakat pedesaan sekarang.Entah yang di pelosok sekali ?
Rumah keluarga yang luas ini dulu asri,keluarga dengan anak 10, dan banyak pekerja dikebun,kandang maupun didapur. Satu persatu mulai meninggalkan rumah,akhirnya tinggal sepi berdua,kemudian bersendiri dan akhirnya cunthêl. Rumahpun kosong lengang ! Itulah perjalanan kehidupan manusia dalam berkeluarga. Begitulah turun temurun berlangsung, bergulir dan terus bergulir ulang. Perubahan pun akan berlanjut,termasuk budaya dan nilai-nilainya. Hilang berganti.


Ambarawa, 28 Desember,2011.

Hadiwaratama
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it


 
BUDAYA MARITIM NUSANTARA
Written by Hadiwaratama   
Thursday, 22 December 2011 17:10

Wacana atau Rencana ...?

BUDAYA MARITIM NUSANTARA

Oleh : Hadiwaratama
www.ganeshana.org
Bandung, 22 Desember 2011.

Pengantar

Tulisan ini sebagai lanjutan dari catatan kunjungan saya kembali ke Ambon tanggal 2 – 3 Desember 2011 yang lalu.

Utamanya adalah ingin menelusuri kembali gagasan Bung Karno yang tak pernah terselesaikan,bahkan lenyap terhapus dalam pertikaian antar anak bangsa beberapa tahun  yang lalu,yang secara spontan saya tuliskan kegoncangan saya dalam potongan-potongan kalimat berikut :

Sungguh pilu hati ini, Mendapati FT-Unpatti, Kosong senyap sunya hilang, Dari s’mua yang terpasang,Oleh ahli-ahli Rusia, Permesinan Bengkel, Peralatan Laboratorium, Dan apapun yang t’lah kami upayakan, Slama lebih dari 8 tahun, Untuk bermakna dan tertunda, Dari lekangnya waktu dan masa, Lembabnya udara bergaram, Asal laut biru jernih diseberangnya, Bersih dari baluran hitamnya stemfet, Yang kering garing mekingking, Seperempat abad yang lewat, Seluruhnya lenyap dari tempatnya, Hanya mur-baut yang tersisa, Tertanam kuat dibekas fondasinya, Sungguh gila -- gila dan gila, Tak ada lagi yang tersisa, Untuk generasi muda anak bangsa ! Tegakah kita membiarkannya…??? Hw


Gagasan besar Bung Karno adanya Pendidikan Tinggi Oceanography di Ambon pun lenyap sudah, tak terungkap apa sebenarnya  yang dimaksud kedepannya untuk Indonesia. Namun bisa diduga bahwa itu adalah bagian dari pengejawantahan Wawasan Negara Maritim Nusantara ,ketika Bung Karno memerintahkan membangun 19 Universitas di seluruh Propinsi pada tahun 1959, lebih setengah abad yang silam.Ada 2 Universitas yang mengusung unggulan khusus, yaitu Unmul di Kaltim dengan Kehutanan Tropis dan Unpatti di Maluku dengan Oceanography-nya; sedang yang lain mungkin lebih banyak meng-copy yang ada di Jawa, khususnya GAMA, UI,UNAIR,ITB dan IPB dengan dosen-dosen terbangnya. Universitas Cenderawasih menyusul,sesudah kembali ke pangkuan NKRI dikemudian hari.

Copying ini terbukti,dalam kunjungan saya ke Universitas Syahkuala Aceh pada tahun 1974,saya dibawa berkunjung ke Fakultas Teknik Sipil oleh PR-I , Ir.Soedarsono, saat itu kalau tidak keliru rektornya Prof Abdul Madjid,yang juga ketua Bappenas (?), ternyata staf pengajarnya dari Gajah Mada semua,termasuk PR-I. Ketika keliling ke laboratorium dan gudang,saya lihat banyak peralatan bantuan Pertamina masih banyak tersimpan dipeti, mereka kebingungan membongkar dan memasangnya karena tak ada teknisi. Maklum saat itu Politeknik belum lahir,STM belum kita bangun ! Kalau saja saya saat itu ditugasi oleh Dikti untuk membantu FT-Unsyiah,pasti akan saya bawa pasukan dari Bandung untuk memasang dan menjalan kannya,seperti juga Pak Kermite membawa pasukannya dari Ambon ketika ditugasi jadi Direktur Politeknik Dili. Pernah disuatu rapat Direktur Politeknik Indonesia, hadir seorang Direktur tanpa punya Sekolah,ya dari Politeknik Dili itu---terpaksa tinggal glanggang colong playu (meloloskan diri) karena keburu merdeka. Tetapi saya selalu kagum pada pengabdi-pengabdi pendidikan tinggi  Indonesia tsb,jauh-jauh pergi dari ramainya Malioboro dan indahnya teluk Ambon untuk mengabdi ditempat yang amat jauh dan masih in the middle of nowhere pula saat itu,persis Fakultas Teknik Unpatti di tahun ’74 an,ditengah luasnya padang ilalang.

 

Kawasan Maritim Nusantara.

Entah tepatnya sejak tahun berapa kita mulai mengenal Wawasan Nusantara,kemudian Kawasan Maritim Nusantara,bahkan Prof M T Zen dari ITB menyebutnya Benua Maritim Nusantara . Betapa tidak,memang kita selalu sebut tanah-air untuk kawasan NKRI dimana kita bernegara dan berbangsa ini,artinya tanah yang terhubung oleh air menjadi satu kesatuan wilayah Negara.

Kalau kita mengkaji hasil penelitian Alfred Russel Wallace antara tahun 1854-1861yang ditulis dalam bukunya “ Kepulauan Nusantara “, sebuah Kisah Perjalanan,Kajian Manusia dan Alam , maka akan terbukti bahwa laladan sejak Klimantan sepanjang Selat Makasar sampai Selat Lombok  kearah Barat itu sebelumnya menyatu berupa daratan dengan Asia Tenggara dan disebut Dataran Sunda (Tatar Sunda). Sunda sendiri dalam bahasa Jawa Kuna,artinya Dataran yang puncaknya miring. Jadi Tatar Sunda itu mestinya bukan sekedar Jawa Barat,yang mungkin lebih tepat disebut Tatar Parahyangan,seperti juga Bali sebagai Pulau Dewata. Kiranya puncak-puncak  miring yang sekarang jadi pulau-pulau Sumatra,Jawa, Kalimantan, dan pulau-pulau kecil di laut Jawa dan Selat Karimata, Riau kepulauan dll itu dulunya menyatu sebagai daratan, Dataran Sunda/Sunda Land namanya.

Anehnya mengapa bukan Selat Karimata yang disebut Selat Sunda,malah cuma selat sempit yang rencananya mau dibikinkan jembatan penghubung antara Jawa dan Sumatra diatasnya?

Es yang mencair dari sejak zaman 14.000 – 7.600 tahun Sebelum Masehi itulah yang menyisakan pulau-pulau yang memang sejak dulu lebih tinggi sebagai  puncak-puncak miring. Jadi laut-laut bekas dataran Sunda,yang sekarang dikenal sebagai Sunda Shelf itu tentunya hanya berupa laut dangkal saja, sekitar 100 m lebih rendah dari garis pantai sekarang. Ini justru dibuktikan oleh penelitian fauna-flora A R Wallace,yang menyebutkan kesamaan satwa-satwa endemic di daratan-daratan bekas dataran Sunda, dimana ciri satwa endemic itu tidak akan pindah kewilayah lain sekalipun hanya dibatasi oleh selat yang sempit saja. Kesamaan satwa-satwa di pulau-pulau dan wilayah-wilayah di Asia Tenggara,Sumatra,Jawa, Bali dll disebelah barat garis imaginair Wallace itu membuktikan bahwa pulau-pulau dan wilayah-wilayah tsb pernah bersatu sebagai suatu daratan. Karena itu ada timah di Singkep,Bangka,Bilitung, Malaysia dan Thailand,dll. Bahkan sekarang menambangnya sudah sampai didalamnya lautan,tidak hanya didarat. Logikanya wilayah Barat Indonesia yang lautnya dangkal ini punya kesamaan sumber-sumber hayati maupun mineral. Konon penanggalan Sundapun yang paling tua di dunia 17.200 tahun umurnya,lebih tua dari kalender Indian di Amerika Selatan, kalender Mesir ataupun China.

Mestinya garis penangkapan ikan sejauh 15 mil dari pantai pun akan berlainan jenis dan ragamnya dari biota pantai laut-dalam. Justru yang paling kaya biota laut itu didaerah 15 mil dari garis pantai itu,menurut penjelasan Kepala Sekolah Perikanan Samudera di Tokyo Bay yang pernah saya kunjungi (Baca tulisan Dari Kobe ke Tokyo Bay). Karena itu sering terjadi sengketa nelayan.Tetapi di Indonesia ini justru nelayan-nelayan didesa pantai lah yang miskin hidupnya,bukan lagi penduduk di Gunung Kidul Jogyakarta.

Kawasan Timur Garis Wallace.

Disebelah Timur garis Wallace itu wilayah laut-dalam,dibatasi disebelah Timurnya oleh garis Weber dan garis Lydekker ,dimana akan ketemu lagi laut dangkal bekas bagian dari benua Sahul yang menyatukan Papua dan Australia. Jadi memang Nusantara terbagi dalam kawasan Maritim dengan laut dangkal dan kawasan Maritim dengan laut - dalam. Mestinya ada perbedaan karakter dari keduanya,baik lautannya maupun kandungan biota dan letak kedalaman mineral serta sumber-sumber energi nya,kalau ada. Bukankah ini justru yang akan jadi PR para sarjana-sujana-nimpuna di wilayah-wilayah tsb yang seyogyanya lebih tegas lagi dalam mendefinisikan wawasan,prospek dan parameter-parameter sasaran yang hendak dicapai dalam  membangun sebagai wilayah maritim dengan disekitarnya ?

Pendidikan Tinggi Oceanography yang direncanakan Bung Karno itu sejatinya bagaimana dasar-dasar penalarannya, karena  jelas itu di kawasan laut dalam. Pasti ada dasar pertimbangan yang kuat untuk membuat keputusan tsb. Apakah ada pertimbangan politik saat itu,karena bujukan Uni Soviet untuk membangun Naval Base di Teluk Ambon yang strategis itu ? Bung Karno cukup cerdik untuk itu, Irian Barat pun belum terbebaskan saat itu! Dari peralatan yang sudah sampai di Ambon,sepertinya program utamanya adalah untuk Naval Architecture/ Ship Building dan Perikanan/Kelauatan. Kalau sampai US sanggup memberi pinjaman sampai US$3.500.000,- pasti proyek ini dinilai sebagai technologically- economi cally-apalagi militarily if not politically--viable ! Ini yang harus kita kaji ulang dan teruskan pembangunannya sehingga bisa terwujud multi facetted values bagi Indonesia.

Kalau kita tengok kembali keberadaan pusat Kerajaan Maritim Nusantara itu,ternyata ada di kawasan laut dangkal, Sriwijaya di Sumatra, Palembang (?) dan Majapahit di Jawa, di hulu sungai Brantas. Dalam 600 tahun kejayaan Nusantara,ternyata Sriwijaya di kalahkan oleh raja Cola dari India,pasti ini perang laut. Demak dikalahkan oleh armada Portugis dalam perang laut di Malaka pada tahun 1511 M,kemudian di Ambon,dan penghabisannya di Semarang.

Kita selalu mengira, R Wijaya itu telah mengalahkan armada ekspedisi Ku Blai Khan dalam menghukum Singasari karena telah menghina kerajaan Yunnan, ternyata disamping kebingu ngan dijebak oleh R Wijaya,sesudah menundukkan Jayakatwang, juga lebih banyak ditentukan oleh Musim Barat yang segera tiba,dan kuatir menunggu 6 bulan lagi untuk bisa kembali ke China,padahal di daerah yang asing dan tak bersahabat (hostile). Sekarang China sudah mampu membangun armada lautnya kembali,lantas dalam wawasan maritim itu bagaimana persiapan kita ?

Sebagai gambaran, ketika armada Ku Blai Khan menyerbu Singasari tahun 1293,saat itu Singasaripun sudah punya armada yang di Sumatra,bahkan sampai di Sumatra Utara(Joko Dolok). Armada Yunnan terdiri dari 1000 perahu  besar-kecil,yang kecil untuk masuk ke Sungai Brantas, dengan pasukan sejumlah 20.000-30.000,melawan 100.000 prajurit Jayakatwang. Kecerdikan R Wijaya membuat Jayakatwang kalah dan pasukan Yunnan melarikan diri,ketakutan tidak bisa pulang kampung pada waktunya.

Memang sejak itu armada Majapahit mampu mengusai seluruh Nusantara sampai sebagian daratan Asia Tenggara,bagian Selatan Filipina dan Papua sebelah Barat. Armada Yunnan berikutnya yaitu Ekspedisi Cheng Ho (Ma Ho), saya kira itu juga bentuk show of force Yunnan yang sudah jadi wilayah China. Untuk apa pada tahun 1405 M Yunnan mengirim ekspedisi nya ke Jawa,lewat Vietnam dan Malaca kalau tidak untuk memperingatkan Majapahit ? Saat itu belum ada kerajaan Islam di Jawa yang ditandai dengan dibangunnya Masjid Agung Demak pada tahun 1466 M,sedang runtuhnya Majapahit baru tahun 1478 M. Cheng Ho membawa armada yang cukup besar,62 kapal dengan 27.800 prajurit,termasuk 4 kapal terbesar pada zamannya dan kapal khusus kuda  ! Memang siap perang ! Jadi rata-rata kapasitas kapal Cheng Ho saat itu adalah 450 prajurit ! Bandingkan dengan kapasitas armada Demak ketika dikalahkan armada Portugis di Malaka,hanya 135 prajurit/kapal ! Bahkan armada yang  sudah dibangun kembali dan dihancurkan Portugis di Semarang pun hanya berkapasitas 400 prajurit, bandingkan dengan kapal Portugis yang 500 kapasitasnya. Armada Yunnan/China memang paling kuat sampai ke pesisir zasirah Arab dan Pantai Timur Afrika. Sampai 7 kali Cheng Ho memimpin expedisi ke Asia Selatan dan zasirah Arab,bahkan harus bertempur beberapa lama dengan bajak laut di Selat Malaka.

 

Hulu - Hilir.

Kita sering menghadapi diskusi bahkan ajakan untuk mulai melakukan transformasi pemikiran, cara pandang atau budaya dari daratan ke lautan. Kita seolah-olah disarankan untuk menengokkan arah pandang kita dari daratan kearah pandang sebaliknya yaitu lautan. Saya agak kesulitan memahaminya,mungkin akan lebih mudah bila dilihat dari sisi hulu dan hilir. Hulu dimana semua berawal,dan hilir dimana semua bermuara. Kesejahteraan yang didapat dari kegiatan pertambahan nilai berawal di hulu, sejak bahan mentah selanjutnya berproses mengalir menuju hilir menjadi bahan baku,setengah jadi,kemudian terus menghilir menjadi produk jadi yang dirakit menjadi produk akhir untuk siap dipertukarkan dengan tangible added value baik dalam hard maupun soft cash. Itulah hubungan hulu-hilir. Dalam makna tanah-air ,maka memang kita punya dua hulu,satu di daratan dan satunya lagi dilautan,baik yang berada di air maupun dibawahnya. Keduanya bertemu dalam satu hilir yang sama,pertambahan nilai akhir.

Dari hulu manapun hakekat wealth creation adalah menyangkut proses grow,extract and make. Disitulah hakekat pertambahan nilai ,naturally (alamiah) maupun  man made. Yang man-made,proses hakekatnya terkontrol sepenuhnya oleh manusia. Mungkin disini kaidah August Comte berlaku, makin tinggi derajat kandungan ilmiah yang dipakai,makin tinggi pula derajat exactness yang dicapai. Ini mudah dipahami,bila kita masuk dalam kaidah nano technology,yang sarat ilmu pengetahuan alam/dasar dan matematika.

Moda transportasinya pun darat-laut dan udara dengan 3 matra kekuatan pertahanan pula,darat-laut dan udara. Dengan moda satelit,tak akan ada lagi sudut Kawasan Maritim Nusantara manapun yang tak terjangkau oleh jalinan komunikasi.

Oceanography.

Kalau merujuk pada berbagai sumber dan program-program studi di beberapa  Perguruan Tinggi di berbagai Negara ,boleh disimpulkan bahwa Oceanography adalah cabang ilmu Kebumian yang mempelajari beragam ilmu yang berkaitan dengan hakekat Kelautan,yang sebagian diantaranya  meliputi ilmu-ilmu :

marine biology,marine physics yang antara lain meliputi ocean physical attributes seperti gelombang- arus-pasang surut-salinasi-temperatur dll,marine chemistry, marine geology,meteorology, marine engineering, coastal geography dan banyak cabang ilmu –ilmu lain yang berkaitan dengan laut.Menilik peralatan dari Rusia yang sudah sampai di Ambon,bisa diduga program study yang akan diselenggarakan adalah :

  1. Naval Architecture,yang meliputi design and construction of ships,karena direncanakan adanya towing tank juga,disamping permesinan yang besar-besar dan mesin-mesin bubut yang  panjang untuk repair/rebuild poros kapal.
  2. Marine Engineering, yang meliputi perancangan system yang akan menggerakkan kapal ,seperti system mekanik atau mesin propulsi dan struktur pendukungnya. Mungkin untuk peralatan ini masih belum sempat dibongkar dari petinya dan dipasang.
  3. Termasuk dalam Marine Engineering ini ialah Offshore Structure,  yang meliputi design-construction-repair of structures dan fasilitas-fasilitas lain yang berkaitan dengan lingkungan kelautan,seperti dalam pembangkitan/produksi tenaga listrik dan transmisi nya,oli, gas dan sumber-sumber energi lainnya. Kemungkinan besar dibidang itulah yang ingin dibangun di cabang Marine Engineering di Ambon,yang kelak bisa meliputi Offshore Platform and Rig.
  4. Mungkin pengembangan selanjutnya bisa meliputi Coastal Structure,yang kemungkinan besar di program studi Civil Engineering ?
  5. Yang non-engineering,sepertinya Marine Biology atau Perikanan Samudera,itu melihat dari peralatan di gudang-gudang yang pernah saya sebutkan. Mungkin sekali dalam Proyek Oceanography tsb termasuk Ilmu Kelautan.

 

Pembangunan Perguruan-Perguruan Tinggi Baru.

Langkah nyata dalam rencana persiapan jangka panjang mengangkat matra kemaritiman adalah  melanjutkan,memperluas dan memperdalam gagasan Bung Karno seperti di Ambon,namun disesuaikan dengan lingkungan daerah masing-masing,baik yang memangku laut dangkal maupun dalam. Konon, Pem akan membangun lagi 13 PerguruannTinggi Baru,baik sesuai recana pembukaan Koridor-Koridor Ekonomi maupun menggali potensi dari matra laut yang belum tergali atau terpikirkan selama ini. Mudah-mudahan tidak sekedar replikasi dari Pergu ruan Tinggi yang telah ada sekarang,tetapi betul-betul bisa menciptakan fokus unggulan dari lingkungan sekitar daerah masing-masing perguruan tinggi yang akan dibangun.

Semoga tidak lupa untuk membangun kembali Program Oceanography di Ambon seperti tujuan awalnya yang kini hampir-hampir telah lenyap bekas-bekasnya,dan hanya bisa menjadi program studi seperti di Perguruan Tinggi lain umumnya. Kita sungguh memerlukan kesungguhan ! Sungguh….?

 

Bandung,22 Desmber 2011

Hadiwaratama

This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 8

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini60
mod_vvisit_counterMinggu ini8274
mod_vvisit_counterBulan ini18083

We have: 10 guests online
Jl. Dayang Sumbi No. 7 Telp./Fax. : 022-2504527 Bandung 40132
Email , Contact Person : Hadiwaratama