| By Hadiwaratama,
on 20-04-2010 16:00
|
KEBERBAHASAAN YANG TAK TERKEDEPANKAN
Mengungkapkan sesuatu dalam paparan tulis rupanya masih merupakan hambatan umum terutama bagi mereka yang tidak terlatih dan terbiasakan dalam membuat karya tulis. Ini menyangkut kemampuan berbahasa. Berbahasa adalah kemampuan yang paling mendasar yang diperlukan manusia dalam menjalin komunikasi antar sesama sejak lahir sampai akhir hayatnya. Awalnya berbahasa berbentuk isarat, lama kelamaan semakin terstruktur dalam ucapan, kemudian berkembang menjadi suatu kalimat. Begitulah kebiasaan itu melekat secara verbal dalam keseharian kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu orang menganggap berbahasa itu adalah hal yang alamiah belaka, tak perlu upaya upaya khusus untuk melakukannya. Kita lupa bahwa dalam masyarakat yang semakin berbasis ilmu pengetahuan itu juga semakin menuntut kemampuan ketepatan berbahasa, baik lisan maupun tulis. Berbahasa tidak hanya semata mata sebagai media komunikasi, tetapi juga media artikulasi ataupun ekspresi diri tentang apa yang dipikirkan, dirasakan dan yang dikehendaki. Kita sering mendengar ungkapan-ungkapan yang luput dari pemaknaan kita, yaitu olah cipta, rasa, karsa yang berujung pada olah karya. Itu bukanlah semata mata ungkapan puitika belaka, yang indah ditelinga. Maknanya amat dalam. Mengapa demikian ? Dalam era berbasis ilmu pengetahuan, kita dituntut untuk mampu mengelola apapun yang telah kita hasilkan dari olah cipta/penalaran, rasa/emosi, karsa/semangat dan olah karya serta akumulasi pengalaman-pengalaman yang telah kita miliki. Pengalaman adalah guru terbaik, dalam kegagalan maupun keberhasilan. Oleh karena itu kemampuan berbahasa, terlebih lebih dalam berbahasa tulis, mutlak diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat maju. Keberbahasaan, media utama dalam bermasyarakat majuDalam kegiatan keilmuan, keberbahasaan adalah media utama bagi manusia dalam menyusun alur pikir yang analitik maupun sintetik untuk menuju alternatif-alternatif kesimpulan dari suatu yang dipikirkan atau dipermasalahkan. Bahwa untuk itu kita juga perlu media lain untuk melengkapinya, tentu mudah dipahami karena merupakan konsekwensi dari tata pikir yang disusun. Media lain tersebut bisa berbentuk angka-angka, simbul-simbul, rumus-rumus ataupun persamaan matematika, grafik, diagram, bahkan gambar. Kemampuan berbahasa adalah wahana utama seseorang dalam mempertanyakan tentang sesuatu yang menjadi perhatiannya. Mempertanyakan tentang sesuatu berarti mencari jawab dari pertanyaan-pertanyaan tentang : apa, siapa, mengapa, dimana, kapan dan bagaimana, yang terkait dengan sesuatu yang menjadi perhatian tersebut. Kekurang mampuan berbahasa berarti kekurang mampuan dalam berpikir kritis. Budaya lisan memang juga dapat menghasilkan budaya kritis. Tetapi dengan lisan saja bagaimana menyatakan dan mendokumentasikan media-media lain yang diperlukan dalam penalaran analitik dan sintetik diatas, terlebih-lebih yang menyangkut hukum-hukum alam ? Kenyataan dilapangan menunjukkan, bahwa kemampuan tulis untuk pendokumentasian pengetahuan dan kemahiran yang didapat dari berpuluh tahun pengalaman nyata, merupakan hambatan utama untuk pengelolaannya. Ini indikasi bahwa kepakaran dari berbagai tataran yang perlu dikelola dan dikembangkan justru akhirnya hanya akan lenyap terbawa mati, karena masing-masing tidak mampu menuangkannya dalam tulisan. Padahal sumber daya yang terbarukan dan tak terhabiskan adalah kepakaran itu sendiri, yang akan merupakan sumber kehidupan insani global. Kedepankan Kemampuan Berbahasa.Keberbahasaan adalah kemampuan mendengarkan/menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Itu memerlukan upaya sadar, yang berarti terprogram, dan dilaksanakan secara sungguh-sungguh dan konsisten. Mengapa demikian? Ini masalah pembentukan kebiasaan/habit forming yang berujung pada budaya. Berpuluh tahun kita telah merdeka, tetapi masih didominasi oleh budaya lisan. Budaya baca dan tulis masih belum secara sungguh-sungguh diupayakan, masih jauh panggang dari api. Habit forming dalam baca tulis berarti betul-betul membiasakan membaca dan menulis. Bagaimana bisa menulis kalau tidak gemar membaca? Pangkalnya adalah banyak membaca! Begitu juga untuk guru dan profesi-profesi lainnya. Keberbahasaan meliputi kemampuan nyata dalam menyatakan sesuatu sesuai derajat kesulitannya, yang tersurat maupun yang tersirat, sejak yang sederhana sampai yang kompleks, yang hakekatnya terkait dengan intelektualitas, emosionalitas maupun spiritualitas. Keberbahasaan bukan hanya masalah Ilmu Bahasa dan Gramatika, tetapi masalah kebiasaan berbahasa. Dalam berbahasa juga melekat/inherent didalamnya masalah tata nilai dan sopan santun. Karena itu kita kenal istilah budi bahasa, dan perwujudannya antara lain tercerminkan dalam sidang-sidang angket kasus Century yang tertayangkan di TV beberapa waktu yang lalu. Kesimpulan.Tidak ada dalih apapun yang kita bisa pakai untuk tidak siap mengedepankan keberbahasaan yang teruji, kalau kita betul-betul memikirkan masa depan. Ini adalah garda utama masa depan bangsa dengan biaya yang paling terjangkau. Kedepankan guru-guru bahasa. Latih dan didik mereka sebaik-baiknya sehingga menghasilkan karya yang membanggakan, yaitu peserta didik yang berkebahasaan. Kehilangan kemampuan berbahasa adalah kehilangan masa depan. Itulah masalah utama kita sampai saat ini. Semoga anak bangsa mahir berbahasa ! Bandung, 23 Maret 2010 Hadiwaratama Anggauta Kelompok Studi Pendidikan Berkualitas Ganeshana, Bandung. Last update: 21-04-2010 09:37
|