NAPAK TILAS atau REKAYASA BALIK Oleh: Hadiwaratama www.ganeshana.org
Napak Tilas. Napak tilas yang berarti menelusuri kembali jejak seseorang yang biasanya dianggap penting atau ditokohkan dalam perjalanannya dari suatu tempat ketempat tertentu. Banyak maksud untuk melakukan itu, misalnya seperti apa jalan beserta suasana perjalanan tersebut, baik secara batiniah maupun alamiah, spiritualitas maupun emosionalitas, bahkan sampai kerationalitasnya mengapa ditempuh jalur itu untuk mencapai yang dituju. Oleh karena itu orang bisa saja melakukan napak tilas perjuangan Pangeran Diponegoro, gerilya Jenderal Sudirman, long march Siliwangi, pembuangan Bung Karno, Bung Hatta dan lain lain. Orang pun napak tilas perjalanan Nabi ! Sejak dulu sampai sekarang orang biasa melakukan napak tilas ini dalam berbagai maksudnya, bahkan sampai kapanpun. Dari napak tilas itu orang bisa belajar banyak dari berbagai aspeknya. Oleh karenanya napak tilas itu penting, terutama terhadap hal-hal yang belum terdokumentasikan tilas-tilasnya, seperti gua Pawon di Citatah misalnya. Kalau tilas tilas itu lenyap atau dilenyapkan seperti Gedung Proklamasi contohnya, bagaimana melakukan napak tilasnya ? Kita sering menganggap cukup kalau kita itu hanya berjalan nguncluk kedepan, tanpa tengak tengok, tanpa lihat lihat sampai bisa terantuk antuk diratanya jalan, terbentur bentur dihampanya ruang dan tersamar samar dibenderangnya siang. Sepertinya napak tilas itu tabu padahal semua bangsa melakukannya ! Bagaimana napak tilas dalam bidang Teknologi ?
Manufaktur adalah proses keindustrian untuk membuat suatu barang dari suatu bahan baku melalui proses teknologi. Arti manufaktur sendiri asalnya adalah membuat barang dengan tangan (manual). Jadi manufaktur itu bukanlah sekedar “ilmu“, tapi sekaligus menyangkut “laku“ (practice). Dalam manufaktur berlaku “ilmu tanpa laku: kosong“ (science without practice: no fruit) tetapi “laku tanpa ilmu: kerdil” (practice without science: no root). Laku dalam manufaktur cepat kadaluwarsa dan cepat berubah karena berkembangnya ilmu pengetahuan, yang berarti juga berkembangnya teknologi. Sekalipun pada prinsipnya tetap meliputi proses-proses material “-forming, -shaping and -cutting”, namun produk-produk manufaktur akan selalu berubah sifat/spesifikasi yang harus dipenuhinya, sesuai dengan perkembangan kebutuhan pemakaian. Pemakaian untuk apapun adalah manusia yang menginginkannya, dan manusia selalu makin meningkat tuntutannya.
Manufaktur tidak dapat hanya dengan berandai-andai. Hanya praktek kuncinya, yang sekaligus didasari kaidah-kaidah ilmu pengetahuan. Praktek berarti teknologi, dan itulah yang harus kita cari, kuasai dan kembangkan. Kegiatan itu harus kita lakukan terus menerus tanpa jemu, sehingga terjadi akumulasi ketrampilan – pengalaman – dan pengetahuan untuk menghadapi perubahan tuntutan.
(*) Ki Hadjar Dewantara: "Ngelmu tanpa laku kothong, laku tanpa ngelmu cupet".