Umumnya kita tidak memperhatikan bahwa tanggal 21 Februari telah dideklarasikan oleh UNESCO sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional yang merupakan pengakuan internasional terhadap Hari Gerakan Bahasa yang selalu diperingati sejak tahun 1952 di Pakistan Timur, sekarang Bangladesh. Deklarasi itu dilakukan pada tanggal 17 Nopember 1999. Tanggal 21 Februari 1952 adalah peristiwa berdarah dalam demonstrasi perjuangan pengakuan bahasa Bengali di Dhaka yang memakan korban jiwa para mahasiswa. Demonstrasi ini sebagai reaksi ditetapkannya bahasa Urdu sebagai satu-satunya bahasa resmi di Pakistan oleh Mohammad Ali Jinnah, Gubernur Jenderal Pakistan saat itu, padahal bahasa Pakistan Timur adalah bahasa Bengali.
Dari inventarisasi Aksara Carakan Jawa, ternyata bahasa Jawa itu mengenal vokalvokal jejeg. Namun karena aksara‐aksara Jawa mengacu pada aksara Sanskerta, maka seolah‐olah Jawa tidak mengenal vokal‐vokal jejeg. Oleh karena itu vokalvokal jejeg itu sampai sekarang tidak ada tanda‐tanda bacanya. Demikian juga dalam menulisan aksara Latin tidak pernah dibedakan vokal jejeg dan miring, sehingga sering menimbulkan ambigu. Tiap vokal miring selalu mempunyai vokal jejegnya, seperti: (tanda baca Latin berikut masih belum standar, sekedar membedakan vokal jejeg dan miring). Lengkapnya klik disini .
Aksara Carakan punika asalipun panci boten namung 20 cacahipun, lan katambah aksara swara cacah 5. Leresipun aslinipun aksara wau wonten watawis 50, lan kaginakaken supados saged kangge nyerat Basa Sansekerta saha Jawi Kina. Dados kirang langkungipun aksara Carakan aslinipun punika trep kaliyan patraping aksara Devanagari. Miturut panalitenipun Prof. Dr. Zoetmulder, carakan punika kaperang kados ing lampiran. Lengapnya klik disini .
Dalam penelusuran dan pengembangan Aksara Jawa, kami memakai dasar‐dasar pemikiran memandang masa lalu dan masa depan, sehingga menghasilkan aksara Jawa yang holistic, dengan kaidah‐kaidah yang sesuai masa lalu (Jawa Kuna), masa kini (Jawa Baru), dan masa yang akan datang (Widya Aksara), khususnya untuk menghadapi abad ilmu pengetahuan yang bersifat global. Jadi yang dituju adalah menemukan kembali seluruh aksara Jawa yang pernah dipakai beserta kaidah‐kaidah pemakaiannya (Jawa kuna) termasuk yang sekarang masih dipakai dan apa yang harus ditambahkan. Ini pernah dilakukan oleh orang Jawa dengan rekaan‐rekaan untuk penulisan bahasa Arab, orang Sunda untuk menuliskan bahasa Sunda, orang Sasak untuk menuliskan bahasa font Qa. Lengkapnya klik disini .