Home

logo

Login

Artikel

Pengunjung

mod_vvisit_counterHari ini21
mod_vvisit_counterMinggu ini1414
mod_vvisit_counterBulan ini896
mod_vvisit_counterTahun ini51951
Tampilan terbaik pada resolusi 1024x768, browser: Firefox, Chrome
Pendidikan Diploma
 

By Hadiwaratama, on 31-07-2009 08:04

POLITEKNIK DISIMPANG ATAU MENYIMPANG JALAN ?

 

oleh : Hadiwaratama

  

Pengantar

 Riwayat Pendidikan Diploma dimulai ketika ITB ditugasi oleh Pemerintah cq Departemen P dan K untuk menjadi pelaksana dari Perjanjian Kerjasama Teknik pada tahun 1973 antara Pemerintah RI dan Pemerintah Republik Konfederasi Swiss yang pelaksanaannya dilakukan oleh Swisscontact. Perjanjian KS tersebut bertujuan untuk mendirikan sebuah  lembaga pendidikan keahlian karya yang dimaksud untuk mendukung pembangunan industri Indonesia. Lembaga tersebut dinamai Politeknik yang memberikan  Sertifikat pada akhir tahun kedua dan Diploma pada akhir tahun ketiga, dalam keahlian Precision Mechanics. Semula program pendidikan Vokasional Tinggi ini akan melaksanakan program pendidikan  4 tahun sesudah SLTA, dan akan memberikan Sertifikat pada akhir tahun kedua dan Diploma pada akhir tahun keempat. ITB tidak sepakat dengan usulan tersebut, yang akhirnya kita sepakati Diploma diberikan pada akhir tahun ketiga. Pendidikan ini awalnya disebut pendidikan non-gelar akademik tetapi diploma keahlian, yang basis utamanya adalah pendidikan 3 tahun. Dari konsep itu selanjutnya oleh Dept P dan K disusun jenjang-jenjang pendidikan Diploma 1 tahun, 2 tahun dan 3 tahun dan program-program tersebut dikategorikan sebagai Strata Nol (S-0) ketika Pemerintah menyusun jenjang/strata pendidikan tinggi. Baru dikemudian hari disadari betapa tidak simpatiknya penamaan program Non-Gelar serta dimasukkan dalam Strata-0 pula! Padahal kita telah membangun jalur strata pendidikan tinggi kejuruan(keahlian) yang sejajar dengan jalur strata pendidikan tinggi akademik. Antar keduanya saling mengisi sebagai mitra kerja dan bukan hubungan subordinasi. Program pembelajaran (dalam jam) 34% teori dan 66% praktek kerja bengkel / laboratorium / studio perancangan selama 34,5 - jam efektif per minggu dan 45 minggu per tahun ajaran dengan peraturan disiplin yang dilaksanakan dengan sangat ketat. Peralatan dan permesinan modern dengan 1 tempat kerja untuk tiap mahasiswa guna membiasakan kerja mandiri baik sebagai perorangan maupun sebagai bagian dari tugas    kelompok. Sebagai yang pertama, Politeknik Mekanik Swiss ITB fokus pada creme de la creme of manufacturing technology yaitu tools-molds-dies-jigs and fixtures design and making

Pada awalnya instruktur didatangkan dari industri-industri di Swiss yg terdiri dari insinyur, technicker, dan meister serta dibantu para asisten Indonesia tamatan STM yang sudah mendapat pelatihan sebelumnya. Selanjutnya direkrut tamatan D3 sendiri dan dikirim ke Swiss-Jerman untuk studi Insinyur-Techicker-Meister dan training-training khusus di industri guna menggantikan tenaga ahli Swiss dikemudian hari. Sedang asisten-asisten tamatan STM ditingkatkan menjadi D3 melalui program belajar sambil kerja.   

    

Perkembangan Selanjutnya.

 

Dari pengalaman membangun Politeknik Mekanik Swiss ITB tersebut, maka selanjutnya dibangunlah Politeknik - Politeknik Negeri yang lain dengan bantuan pinjaman dari World Bank dan ADB serta dukungan grant dari pemerintah - pemerintah Swiss, Jerman, Australia, Jepang, dll.

 

Program-programnya diperluas dari bidang enjiniring termasuk teknik penerbangan dan perkapalan ke bidang-bidang pertanian, turisme, administrasi/kesekretariatan dan keuangan. Yang belum sempat diprogramkan adalah bidang industrial art & craft. Seperti pendahulunya, instruktur banyak melibatkan tenaga-tenaga ahli dari negara-negara pendukung. Instruktur-instruktur Indonesia disiapkan melalui pelatihan bengkel & laboratorium selama 1 tahun bagi para tamatan S1, dan 3 tahun pendidikan D3 bagi tamatan SMK. Mereka-mereka ini, termasuk para tamatan D3 Poli, yang kemudian ditingkatkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi maupun pelatihan-pelatihan khusus, baik didalam maupun luar negeri, bahkan beberapa sampai S2 dan S3. Sifat pendidikannya tetap seperti pendahulunya, hanya jumlah minggu menjadi 44 per tahun ajaran supaya seimbang beban tiap semesternya. Hakekatnya berlaku kenaikan semester, karena bila gagal pada suatu semester bisa dikeluarkan, sebagai konsekuensi sistem kelas seperti di sekolah menengah, bukan program per mata pelajaran. Jelas disitu dasarnya adalah jam-terbang/kemahiran, meskipun akhirnya jam tersebut dinyatakan dalam sks sebanyak 120 sks untuk D3, tanpa mengurangi jam terbangnya.  

 

         

Disimpang atau Menyimpang Jalan ?

 

Kurangnya pengertian terhadap sifat dan tujuan jalur Pendidikan Tinggi Kejuruan yang menekankan pada keahlian terapan, dan memberikan sebutan Ahli kepada para tamatannya, terasa akan menjadi potensi penyebab pergeseran makna pendidikan Diploma. Sebutan untuk masing masing jenjang adalah D1 = Ahli Pratama, D2 = Ahli Muda, D3 = Ahli Madya, D4 = Ahli (sekarang dengan gelar SST, Sarjana Sains Terapan); jenjang diatasnya adalah Spesialis I dan Spesialis II, yang terinspirasi dari adanya sebutan Spesialis dan Super Spesialis (sekalipun mungkin tidak resmi) dibidang kedokteran. Sebutan yang dikonsepkan secara umum adalah untuk Spesialis I = Ahli Utama Muda dan Spesialis II = Ahli Utama. Disadari sepenuhnya, bahwa jalur ini memang bukan jalur pendidikan akademik tetapi Keahlian, karena itu memberikan Sebutan Keahlian. Yang belum terpikirkan dengan tuntas adalah sifat jenjang Post Diploma, apakah akan makin menyempit dan mendalam serta fokus dalam keahlian spesifik, atau sebaliknya justru semakin melebar sifatnya. Namun satu hal pasti yaitu pengaturan jalur keahlian ini masih menggunakan pendekatan pemikiran jalur akademik, dan inilah yang berpotensi menggeser makna pendidkan keahlian. Ketentuan bahwa instruktur (sekarang disebut Dosen) minimum berijasah S1, bahkan sekarang cenderung menjadi S2, maka dosen-dosen baru direkrut langsung dari tamatan S1 atau S2, yang tentu saja tidak akan mampu kalau tidak enggan memberikan kemahiran terapan dibengkel maupun laboratorium, tanpa pelatihan pelatihan seperti angkatan angkatan awal instruktur di Politeknik. Mereka cenderung lebih suka pendidikan lanjut yang memberikan gelar dari pada pelatihan kompetensi yang diperlukan, karena waktunya hampir sama saja lamanya. Sebagai dosen seolah-olah tugasnya hanya memberikan pengajaran teoretik dan menjauhi bengkel dan laboratorium, karena dianggap bengkel dan laboratorium itu bukan lahan dosen. Lahan dosen adalah didepan computer bukan permesinan, sedang permesinan itu adalah lahannya instruktur, begitulah kiranya, nama pun bisa merubah sikap. Lantas siapa yang melatih kemahiran yang memerlukan penyempurnaan berkelanjutan dan semakin canggih teknologinya ? Barangkali ini sebagai akibat hanya adanya satu jalur linier pengembangan karier di negara kita. Lain dengan Korea, yang mempunyai 3 jalur sejajar yang tidak saling subordinasi yaitu : 1. Jalur karier akademik puncaknya Guru Besar yang bermuara pada hasil riset. 2. Jalur profesional di enjiniring puncaknya insinyur profesional yang bermuara pada karya-karya  kerekayasaan dan rancang bangun. 3. Jalur kemahiran/ketrampilan puncaknya Meister (Empu) yang bermuara pada produk bernilai tambah tinggi karena kompleksitas teknologinya. Mereka ini sama status dan gajihnya, dan hubungan antar mereka adalah kemitraan kerja yang sinerjik sifatnya, bukan subordinasi. Jadi karier para pengajar di pendidikan diploma inipun bisa terbuka setinggi tingginya, sekalipun tanpa sebutan Profesor, yang dulu dikonsepkan sebagai Instruktur Utama. Disini terlihat jelas peraturan yang masih mengacu hanya pada jalur akademik yang akan berakibat pada  bergesernya, kalau tidak gagalnya, Pendidikan Diploma Politeknik. Bahkan kedepan bisa terjadi kemungkinan adanya desakan dari dalam, karena banyaknya dosen yang sudah tamat S2 dan S3, untuk merubah Politeknik menjadi University of Applied Science seperti di Eropa & Australia dan mengesampingkan pendidikan Diploma. Namun karier akan terbuka lebar sampai Guru Besar. Peraturan yang ada sekarang layaknya jas akademik yang kedodoran untuk progam diploma. Jadi mau kemana supaya tidak setengah hati katanya?

  

Penutup

 

Berdasar wawasan link and match, telah dirumuskan bertemunya 2 jalur pendidikan tersebut, bahkan dengan pelatihan-pelatihan di tempat kerja, yang bersimpul pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia, untuk memenuhi kebutuhan pembangunan industri nasional yang bersifat global. Disitu tercerminkan proporsi dari kemampuan kognitif, psikomotorik maupun afektif dari masing-masing tingkat penjenjangan. Jelas tertuang didalamnya kemampuan kognitif yang semakin naik bila tingkatnya semakin tinggi dan sebaliknya kemampuan psikomotorik semakin banyak bila tingkatnya makin kebawah, sesuai dengan taxonomi Bloom.

 

Mudah-mudahan KKNI tersebut tidak dimaknai sebagai Kerangka Kursus Nasional Indonesia, sekalipun dikelola oleh BNSP, Badan Nasional Sertifikasi Profesi.

 

Lebih baik menyempurnakan yang telah ada daripada membuat substitusinya !

 

Bandung, 28 Juli 2009

 

Hadiwaratama.

                                                                              This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it

Last update : 31-03-2010 09:41

   

Users' Comments  
 

Average user rating

 

Display 1 of 1 comments

Yahoouj

By: Victor () on 02-03-2010 22:11

Yahoouj

By: Victor on 02-03-2010 22:11

Really good work about this website was done. Keep trying more - thanks! [url=http://ganeshana.org/? b9523b1c8b5d5ad7062b1b218f8] http://ganeshana.org/? b9523b1c8b5d5ad7062b1b218f8[/ url],

 

» Report this comment to administrator

» Reply to this comment...

Display 1 of 1 comments



Add your comment
Name
E-mail
Title  
Comment
 
Available characters: 500
 
   
   



mXcomment 1.0.6 © 2007-2010 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
< Prev   Next >