| By Hadiwaratama,
on 27-08-2009 09:01
|
NAPAK TILAS atau REKAYASA BALIK Oleh: Hadiwaratama www.ganeshana.org
Napak Tilas. Napak tilas yang berarti menelusuri kembali jejak seseorang yang biasanya dianggap penting atau ditokohkan dalam perjalanannya dari suatu tempat ketempat tertentu. Banyak maksud untuk melakukan itu, misalnya seperti apa jalan beserta suasana perjalanan tersebut, baik secara batiniah maupun alamiah, spiritualitas maupun emosionalitas, bahkan sampai kerationalitasnya mengapa ditempuh jalur itu untuk mencapai yang dituju. Oleh karena itu orang bisa saja melakukan napak tilas perjuangan Pangeran Diponegoro, gerilya Jenderal Sudirman, long march Siliwangi, pembuangan Bung Karno, Bung Hatta dan lain lain. Orang pun napak tilas perjalanan Nabi ! Sejak dulu sampai sekarang orang biasa melakukan napak tilas ini dalam berbagai maksudnya, bahkan sampai kapanpun. Dari napak tilas itu orang bisa belajar banyak dari berbagai aspeknya. Oleh karenanya napak tilas itu penting, terutama terhadap hal-hal yang belum terdokumentasikan tilas-tilasnya, seperti gua Pawon di Citatah misalnya. Kalau tilas tilas itu lenyap atau dilenyapkan seperti Gedung Proklamasi contohnya, bagaimana melakukan napak tilasnya ? Kita sering menganggap cukup kalau kita itu hanya berjalan nguncluk kedepan, tanpa tengak tengok, tanpa lihat lihat sampai bisa terantuk antuk diratanya jalan, terbentur bentur dihampanya ruang dan tersamar samar dibenderangnya siang. Sepertinya napak tilas itu tabu padahal semua bangsa melakukannya ! Bagaimana napak tilas dalam bidang Teknologi ?
Rekayasa Balik : Perlu asal Tahu dan Mau. Rekayasa Balik atau Reverse Engineering maknanya adalah napak tilas. Rekayasa adalah proses analisa sedangkan Rancang Bangun adalah proses sintesa dari hasil hasil analisa. Karena itu kita kenal Network Analysis dan Network Synthesis dibidang Elektro atau System Engineering dan lain lain. Rekayasa balik adalah proses menemukan prinsip-prinsip teknologi dari suatu perangkat keras, produk, process plant, konstruksi sipil, konstruksi mesin, produk kimia, dan lain-lain baik melalui analisa struktur, fungsi maupun operasinya. Kalau perlu sampai memrotoli komponen komponennya dan dianalisa secara rinci untuk berbagai keperluan. Yang ditabukan adalah bila hal tersebut untuk menjiplak atau memalsukannya, apalagi kalau sudah di copyright-kan. Makanya didunia mulai ada gerakan copy left. Tetapi toh didunia ini banyak yang melakukannya terutama untuk terapan dalam keperluan yang berbeda beda atau untuk penyempurnaan produknya yang kita kenal dengan Bench Marking (for the best practice). Namun rupanya dalam defense technology, tip-mengintip ini jamak dilakukan, baik melalui jaringan intelligent ataupun memberi upah orang untuk mencurinya. Mungkin karena defense technology tidak pernah dipatenkan, karena tertutup untuk umum. Tetapi sejak perang dingin antara blok timur dan blok barat mencair, sebagian dari defense technology ini dilepas keindustri umum. Ini dikenal sebagai dual-technology, yang menambah keunggulan teknologi Amerika. Jadi reverse engineering dan tip-mengintip itu memang common practice. Ketika pesawat Concorde diperkenalkan di Air Show Paris, bukankah pesawat serupa Rusia juga diperkenalkan, dan orang menamakannya Concordsky. Jangan dikira laku rekayasa balik itu hal yang mudah dan remeh temeh, itu juga memerlukan modal accumulation of knowledge, skills and experience dan tidak bisa muncul dengan tiba-tiba. Bahkan mungkin rekayasa balik bukan dianggap bagian dari research. Lantas apa maknanya banyak didirikan Engineering Research Centers dibanyak negara itu? Saya lihat diberbagai Engineering Research Centers, baik di Eropa, Amerika maupun Asia yang umumnya selalu kerja sama dengan Universitas induknya/partnernya dalam menyelesaikan masalah masalah industry, ternyata yang dilakukan juga reverse & improve engineering. Semua itu dilakukan oleh mahasiswa mahasiswa S3 dibawah bimbingan Profesor yang memiliki proyek penelitiannya, yang berasal dari industri ataupun sponsor lainnya. Hasilnya tentu saja desertasi untuk S3 atau thesis untuk S2. Namun bila memperhatikan perangkat keras maupun lunaknya, tak terbayang kapan perguruan tinggi kita, yang terbaik sekalipun akan memilikinya. Kemampuan untuk Rekayasa Balik ini perlu ditumbuhkan dalam Pendidikan Tinggi kita. Itulah yang saya maksud being in the frontier of codified state of the art. Negara-negara maju yang sudah being in the frontier of science and technology saja masih rame-rame melakukannya, mengapa kita tidak ? Bahkan tempe pun direkayasa balik dan dipatenkan oleh Jepang ! Lantas kalau Batik bagaimana, karena ada batik Indonesia, India, Swiss, Afrika, dan lain lain ? Namun kita juga tidak mungkin berpretensi seolah-olah kita bisa memikirkan dan melakukannya (mereka-reka) sendirian dari kampus.
Pengalaman yang menyentuh. Sebagian besar hidup saya memang saya habiskan di Politeknik, khususnya di Polman, dan saya curahkan sepenuhnya untuk memperbesar kemampuan Polman dalam menyelesaikan tantangan-tantangan nyata dari industri. Dan tentu saja tanpa dukungan dan dorongan dari Rektor-Rektor ITB beserta jajarannya, sejak dari Pak Doddy sampai Pak Wiranto tidaklah mungkin saya dapat melaksanakan tugas-tugas saya dengan baik. Tidak pernah saya dihalangi dalam upaya-upaya pengembangan kemampuan Polman, justru saya selalu dicarikan jalan keluarnya bilamana menghadapi kesulitan. Itulah ITB yang saya nilai sangat konsekwen dan committed dalam pembangunan Polman, sebagai yang melahirkan dan mendewasakannya, lila legawa tanpa pamrih ! Saya bisa merasakan yang dirasakan oleh Pak Wiranto sebagai Rektor saat itu, ketika menyadari bahwa sesuai UU-Pendidikan, Polman harus dipisahkan dari ITB. Pak Wir bilang : bagaimana Dik, ini intan yang dengan susah payah kita bangun kok harus kita serahkan orang lain. Kalau memang harus pisah, bisakah namanya tetap Polman-ITB sebagai nama, bukan sebagai bagian dari Institut Teknologi Bandung. Saya paham betul maksud Pak Wir, supaya tetap adanya hubungan batin dan kerjasama antara keduanya, namun apakah juga nantinya akan dipahami oleh anak cucu penerus ITB maupun Polman. Kami hanya bisa mencantumkan dalam kop surat Polman didalam tanda kurung : (d/h Politeknik Mekanik Swiss-ITB). Mudah-mudahan tetap dituliskan begitu untuk seterusnya ! Dan sebenarnya sifat seluruh Politeknik ditanah air itu juga dirancang seperti Polman dalam pembangunannya. Di Polman inilah saya betul-betul merasakan apa rekayasa balik itu. Itu diawali ketika mulai merubah practical based education menjadi production based. Struktur organisasi dirubah sebagai industri, ada Divisi Rekayasa & Perancangan, Divisi Produksi, Divisi Pemasaran/Penjualan, Divisi Pendidikan & Pelatihan, kemudian Administrasi & Keuangan. Tadinya saya pikir hanya untuk memasarkan produk-produk standar hasil pelatihan mahasiswa dibengkel saja.
Perkembangan Selanjutnya. Sebelum memulai production based education sebenarnya Polman telah mendirikan Production Unit yang terpisah pengelolaannya dan dipimpin oleh seorang ahli dari Swiss. Di negaranya Tenaga Ahli ini memang profesinya sebagai tenaga produksi di industri. Tidak banyak cakap dan penuh percaya diri, rajin berkunjung ke industri-industri dan memperkenalkan apa yang bisa dikerjakan oleh Polman. Pulangnya selalu membawa pekerjaan-pekerjaan dari industri. Dengan berjalannya waktu, banyak pelanggan yang kenal kemampuan Polman berdatangan membawa pekerjaan. Dari situlah awal mulainya melakukan rekayasa balik terhadap hal-hal nyata dari industri. Pekerjaan semakin banyak tidak tertampung lagi di Unit Produksi, maka diputuskan memperluas kemampuan dengan melibatkan seluruh bengkel yang ada dan mahasiswa tidak melulu dilatih keterampilan dasar tetapi juga langsung dilibatkan dalam proses perancangan maupun produksi sesuai kualitas, jumlah maupun time delivery. Semakin meningkatnya macam dan jumlah pekerjaan, dengan derajad kesulitannya masing-masing membuat Polman terus melakukan penyesuaian baik dalam pendalaman keahlian- keahlian khusus maupun teknologi. Mesin-mesin canggih mulai diadakan baik yang bersifat khusus maupun yang fleksible, termasuk perangkat lunak baik yang high- maupun low-end beserta platform- platform yg diperlukan. Demikian juga diadakan alat-alat ukur digital dan alat-alat pengujian. Semua investasi berdasar demand driven and necessity. Tidak berhenti disitu rekayasa balik karena sering untuk memenuhi kebutuhan industri pelanggan ini juga membutuhkan preformed material seperti produk-produk casting dengan spesifikasinya masing-masing. Ternyata belum ada industri casting yang siap melayani permintaan-permintaan tersebut di Indonesia. Kami putuskan membuat program studi Pengecoran Logam dan Pembuatan Pola dengan seluruh instalasi dan peralatan serta permesinan yang diperlukan sehingga merupakan suatu pabrik kecil namun masih memenuhi skala ekonomi. Semakin komprihensip dan melebar Polman belajar dalam reverse engineering, baik untuk industri besar, menengah maupun kecil. Dari kebutuhan intern Polman sendiri dalam pemakaian permesinan canggih dirasakan perlunya ahli-ahli bidang elektronik dan automasi. Maka didirikanlah program studi Automasi dan Mekatronika. Lengkap sudah core keahlian Polman dalam Manufacturing Technology. Terbukti secara gabungan mereka menghasilkan mesin-mesin khusus beserta automasinya sesuai pesanan pelanggan, namun secara sendiri-sendiri mereka juga punya pelanggannya masing masing. Gaya pengembangan Polman adalah industry driven, bukan semata mata educational push tetapi lebih ke technological necessity karena pelanggan memerlukan hasilnya. Disitulah kunci keberhasilannya sebagai Technology Center, dimana program pendidikan ikut memanfaatkan jauh melebihi kebutuhannya. Ini yang kita sebut sebagai Pusat Relevansi Pembangunan, dan itulah visi dan misi ketika mengawali pembangunan seluruh Politeknik di Indonesia, tanpa memikirkan atribut tetapi hasil !
Pendidikan Terapan. Pendidikan terapan seyogyanya berciri kemahiran yang bermanfaat langsung dalam kegiatan dimasyarakat baik sebagai kelompok sosial, ekonomi maupun keindustrian. Saya cenderung untuk menggunakan kendaraan rekayasa balik sehingga betul-betul membumi karena nyata sasarannya, dan jelas yang mau dipahami dan dikuasainya. Ini bukan proses mengkopi apalagi memalsukannya, tetapi menganalisa kembali suatu hasil syntesa untuk mencari kaidah-kaidah penalaran ilmiahnya, atau the imagined knowledge stream. Orang yang tidak memahami the principles of science and mathematics dan tidak pengalaman dalam practice akan sulit melakukannya kalau tidak mustahil. Semua informasi yang diperlukan untuk menghasilkan produk yang dianalisa harus ditemukan kembali. Sesudah knowledge stream(why) terungkap maka analisa diteruskan dalam knowledge flow(how). Ini nyata yang meliputi perangkat keras (teknologi) dan kinerjanya dengan berbagai bentuk, dimensi, karakteristik, toleransi, safety and risk margin. Hasilnya antara lain bisa untuk memperbaiki produk, proses, perangkat keras maupun system. Juga bisa dipakai untuk pengembangan dalam kegunaan lain. Hanya kerja bersama-sama dengan mereka yang hari-hari melakukan kegiatan opersional atau produksi maka kampus akan mampu ikut melakukan rekayasa balik. Kurang ilmiahkah ini, padahal hasil dan manfaatnya pun nyata? Bila kita jadikan sasaran karya, maka Indonesia akan mampu melakukan rekayasa, rancang bangun, konstruksi pabrik, kilang, sekaligus mengoperasikan, merawat dan memperbaikinya. Bukan teknologi yang selalu harus kita beli, tetapi malah bisa menjualnya. Bila kita lakukan dengan kesungguhan, lambat laun industri nasional akan bangkit dan Indonesiapun akan maju. Bayangkan kalo minyak habis, gas habis, kayu habis, tembaga habis, timah habis, aluminium habis, lantas kita mau jualan apa? Mumpung semuanya masih ada maka kita jual sendiri sebagai processed and manufactured goods. Rekayasa Balik bisa dimulai dari yang paling sederhana sampai yang canggih! Taiwan yang tidak punya pohon kelapa, malah expor mesin-mesin pengolahan sabut kelapa kenegara negara yang punya pohon kelapa, termasuk Indonesia. Itulah tantangan Pendidikan Terapan, yang betul-betul langsung terpakai, dilakukan sama-sama industri, jangan sendirian dikampus bisa-bisa hanya simulasi belaka, terapan yang tidak patrap. Bisa saja S2 Terapan dipakai sebagai jalan untuk melakukan upaya Rekayasa Balik, misalnya selama 1 tahun dikampus belajar theoretical knowledge yang relevan, dan 1 tahun melakukan tugas rekayasa balik di industri dibawah bimbingan dosen kampus dan practitioners di industri. Sebaliknya juga bisa, mengapa harus mempertahankan yang place and time bound, kita harus berani melakukan cara-cara alternatip inkonvensional untuk menyelesaikan masalah bangsa. Kan sudah ada perangkat untuk distance learning, yang bisa real time . Tenaga-tenaga yang di industri juga bisa diprogramkan belajar jarak jauh paling tidak untuk knowledge updating, karena mungkin mengalami knowledge saturation. Hal semacam itupun bisa jadi program S2 Terapan sekalian tesisnya untuk melakukan tugas rekayasa balik diindustrinya, yang meaningful untuk semua. Begitulah kira-kira pandangan saya tentang Pendidikan Tinggi Terapan, punya sasaran yang nyata, bukan direka-reka sekedar untuk atribut belaka. Mereka-reka sendiri dari kampus adalah upaya yang sia-sia. Melibatkan real practitioners yang memahami masalah keindustrian mutlak diperlukan karena pengakuan (brand immage) terhadap hasil pendidikan terapan adalah bukti manfaatnya, bukan karena hasil promosi liwat Humas, apalagi Advertensi ! Jangan sedikit sedikit merasa bisa, sedikit sedikit merasa bisa, nanti kalau-kalau ada yang tanya : Merasa bisa kok cuma sedikit ? Rekayasa balik akan memperpendek masa compang camping dalam menuju kebangkitan menjadi bangsa yang bermartabat, Indonesia. Kalau ajining diri ana lathi, ajining raga ana busana, maka ajining bangsa amarga sembada. Semoga rekayasa balik merupakan komitmen bersama sebagai komitmen bangsa !
Bandung, 24 Agustus 2009. Hadiwaratama
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
Last update : 31-03-2010 09:41
|
|
|
Problem with activating account
By: Flo () on 30-11-2009 09:27