| By Hadiwaratama,
on 27-08-2009 09:51
|
Kemahiran Ekspresi Diri oleh : Hadiwaratama www.ganeshana.org
Pengantar Tulisan ini dimaksud sebagai masukan untuk Perguruan Taman Siswa dalam menjawab tantangan bangsa untuk menghadapi era berbasis ilmu pengetahuan kedepan. Masyarakat dunia akan semakin nirbatas dan terhubung secara realtime antar sesama melalui jejaring sistem telekomunikasi dan komputer yang semakin besar kapasitas dan kecepatannya. Hampir seluruh sudut-sudut dunia bisa dijangkaunya, tanpa kecuali. Merujuk kembali keasas awal yaitu Perguruan sebagai Pusat Gerakan Budaya untuk meraih dan mempertahankan kedaulatan bangsa kiranya perlu dilakukan. Dengan demikian kita bisa nikmati kesejahteraan dan karaharjan yang sesungguhnya bagi seluruh anak bangsa.
Jer basuki mawa beya harus tertanam dalam budaya kita, sebagai kesadaran pribadi maupun kelompok atau masyarakat. Melupakan pengaktualisasian sesanti tersebut hanya akan membuat kita melupakan segala langkah dan upaya melalui tekad dan kesungguhan, kerja keras, disiplin serta pengumpulan dan pemupukan pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan untuk memecahkan masalah dan tantangan yang dihadapi. Budaya sesaat/instant, gebyar, jalan pintas, yang membodohkan dan memalaskan harus dikikis habis. Budaya mengandalkan kertas/ijasah formal harus diganti dengan budaya unjuk kerja/kinerja sesuai tantangan yang dihadapinya, apapun gelar yang disandangnya. Saat ini terjadi kecenderungan semakin naiknya persyaratan akademik yang diperlukan dalam setiap pekerjaan yang tidak sesuai dengan unjuk kerja yang diperlukan. Ini sebagai akibat dari hanya adanya satu jenjang linear dalam pengembangan karier nasional.
Contoh nyata dalam pendidikan kejuruan/vokasi yang cenderung mensyaratkan guru-gurunya berijasah S2 bahkan didorong untuk S3, lantas siapa yang akan melatih ketrampilannya ? Seolah-olah kurang efektifnya/kegagalan guru-guru berkualifikasi S1 akan disubstitusi dengan S2 dan S3. Budaya substitusi inipun termasuk yang harus dikikis, karena tidak menghargai akumulasi pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman. Ini akan fatal, karena meninggalkan asas Jer Basuki Mawa Beya (There is no such free lunch) yang saya sebutkan dimuka !
Bapak pembangunan Korea (Selatan), Dr. Cheong, pada era President Park Chung Hi, pernah bilang pada President Park sbb : Berilah saya satu orang yang kompeten daripada 1000 orang mediocre, maka akan saya bangun Korea ! Dia rombak tata nilai masyarakat (Buddha?) dengan menciptakan 3 jalur jenjang karier yang sejajar, bukan 1 jalur dimana terjadi subordinasi antara satu dan yang lain seperti kita punya sbb: 1. Karier tertinggi jenjang akademik adalah Professor, yang berujung pada karya riset. 2. Karier tertinggi jenjang keinsinyuran adalah Insinyur-Profesional, yang berujung pada karya-karya kerekayasaan dan rancang bangun. 3. Karier tertinggi jenjang kejuruan/teknisi adalah Meister, yang berujung pada produk-produk bernilai ekonomi tinggi.
Ketiga jenjang tersebut sejajar dan setara, dengan skala gajih yang sama. Ini betul-betul suatu perubahan tata nilai, yang membuat Korea maju. Ketika saya cek kebenarannya dalam kunjungan saya tahun 1995, saat memimpin delegasi Diknas, Depnaker dan Kadin ke Korea, perubahan tersebut betul-betul dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan konsekwen. Jadi kompetensi/kinerja yang sesuai dengan pekerjaan (nilai ekonomi) yang diutamakan, bukan nilai administratip ! Beranikah Indonesia merubah tata nilai (budaya) seperti Korea ?
Lalu dimana posisi Taman Siswa dalam gerakan pengembangan budaya semacam itu ?
Jalan Masuk atau Entry Point Dengan tetap memegang asas-asas yang diturunkan oleh Ki Hajar Dewantara (KHD), selayaknya kita cari jalan masuk dan darimana kita memulainya. Ada 3 methoda yang pernah saya alami didalam pendidikan teknologi dan terbukti (proven) berhasil, yaitu: 1. Merubah practical based education yang hands on menjadi production based education, berorientasi pada teknologi produk sesuai kebutuhan pelanggan, yang berarti menerapkan asas economy of scope (customization). Ternyata gairah belajar dan kerja guru maupun peserta didik menjadi besar, karena dasarnya kepuasan pelanggan (evaluasi oleh pihak ke-3). 2. Cooperative Education, 2 tahun merupakan school based education & basic skills training, dan 1 tahun kerja produktif yang terprogram dan terstruktur sesuai SOP industri tempat kerja. 3. Industry based Education, 3 tahun penuh kerja produktif di Industri dan pembelajaran teori dan uji laboratorium di pusat uji industri. Pada dasarnya ini production based langsung melakukan kegiatan produksi di Industri.
Ketiga metoda diatas menerapkan asas-asas : 1. What to learn: learn to learn, learn to know, learn to do, learn to be dan learn to work together. 2. How to learn: learning by learning, learning by doing, learning by using, learning by interacting.
Yang saya ingin usulkan dalam pembelajaran budaya berbasis ilmu pengetahuan adalah melalui koridor dan entry point Kemahiran Ekspresi Diri yang masih terjangkau dalam pembiayaan kita, melalui pembelajaran bahasa, karena ini adalah alat dasar artikulasi atau expresi diri, sejak dari : mendengar --> mendengarkan/menyimak --> berbicara --> membaca --> menulis. Bila terlatih dalam kebiasaan kegiatan expresi diri tersebut, maka inherent didalamnya kebutuhan akan pola-penalaran/-pikir, yang hakekatnya itu adalah kegiatan ilmiah yang analitis dan sinthesis. Dengan demikian peserta didik akan tergugah kesadarannya bahwa yang bersangkutan membutuhkan kemampuan dalam mempertanyakan tentang sesuatu dan mencari jawabannya yang berupa pertanyaan-pertanyaan berikut : apa, siapa, mengapa, kapan, dimana dan bagaimana, baik melalui kaidah ilmu-ilmu sosial maupun Ilmu-ilmu Dasar & Matematika.
Kemahiran mengekspresikan diri ini harus dilatih dan dibiasakan terus menerus utamanya melalui kebiasaan yang akhirnya menjadi kegemaran membaca dan menulis tentang apa yang dipikirkannya, dirasakannya dan yang dimauinya.
Bukankah ini aktualisasi dari asas cipta, rasa, karsa yang berujung pada karya, dan berlaku universal yang telah diletakkan oleh KHD ketika mendirikan Taman Siswa ?
Jangan-jangan selama ini kita kurang didalam melaksanakan asas-asas yang telah diletakkan oleh KHD tersebut. Bila seseorang sudah terbiasa dalam ulah expresi diri tersebut, maka belajar itu adalah untuk memenuhi kebutuhan peserta didik, bukan sesuatu yang dipaksa-paksakan sehingga menakutkan atau keterpaksaan seperti sekarang. Bila demikian halnya maka UN menjadi tidak relevan lagi ! Apalagi sampai ada Kepala Daerah yang mengancam akan mencopot Kepala Sekolah bila murid disekolahnya tidak lulus UN 100%. Ini proses pembodohan dan pemalasan karena mengejar gebyar tak bermakna ! Akhirnya menghalalkan segala cara, demi gebyar 100%. Ini namanya katatab ing suwung, kasandhung ing rata, kasamar ing padhang, tidak memahami pokok permasalahan. Bila kesadaran untuk ekspresi diri tumbuh, maka belajar MIPA pun bukan halangan yang menakutkan, karena memang yang bersangkutan merasa memerlukannya untuk menganalisa dan memecahkan masalah yang ingin disampaikannya. Menguasai asas-asas MIPA adalah modal dasar untuk menciptakan nilai tambah melalui teknologi. Nilai tambah berarti kemakmuran. Bank Dunia menurunkan Knowledge Economic Index (KEI), artinya seberapa besar kontribusi hasil system pendidikan dalam pembangunan ekonomi, mungkin ini penting dikaji apa parameternya, utamanya untuk Pendidikan Tinggi, Vokasi dan Kejuruan. Pernah saya minta seorang Pakar Ekonomi mengkaji nilai ekonomi STM-Pembangunan di Bandung. Hasilnya adalah gajih yang diterima lulusan ditempat kerja. Logis juga karena ini berarti ditinjau dari daya saing, profit, sustainability dan growth perusahaan. Artinya menyangkut budaya kerja produktif yang efektif dan efisien (Lean Technology). Perjuangan pengembangan budaya semacam itu memerlukan repositioning dan reengineering Lembaga-lembaga Pendidikan. Dengan demikian kita tidak lagi kaya raya tapi miskin, merdeka tapi tidak berdaulat, terutama terhadap kekayaannya.
Bandung, 22 Juni 2009 Hadiwaratama
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
Kerangka Umum Referensi Pemelajaran Bahasa-bahasa di Eropa (*) yang menjelaskan secara rinci kemampuan yang harus dicapai (kompetensi) seseorang dalam membaca, menyimak/mendengarkan dan menulis dalam tiap jenjang.
| Pemakai Profesional | C2 | Mampu mengerti dengan mudah apa yang didengar dan dibacanya melalui imaginasinya. Mampu menyimpulkan informasi dari berbagai sumber, lisan maupun tertulis, dan menyusun kembali dalam suatu uraian yang memuaskan dan masuk akal. Mampu menyatakan pendapatnya dengan lancar dan tepat secara spontan/seketika, mampu memilah makna yang tersirat dari wacana yang kompleks sekalipun. | | C1 | Mampu mengerti dan mampu mengenali yang tersirat dalam naskah/artikel/kalimat panjang yang luas lingkupnya/cakupannya dan sangat menuntut perhatian. Mampu menyampaikan pendapatnya secara seketika tanpa mencari-cari bagaimana cara menyatakannya. Mampu berbahasa secara luwes dan efektif dalam pergaulan di masyarakat maupun dalam keperluan akademik dan profesional. Mampu menyusun secara jelas, tepat dan rinci suatu naskah/teks yang memuat hal-hal yang kompleks dengan menunjukkan penggunaan kendali pola organisasi, penghubung dan perangkat pelekatnya. | | Pemakai Bebas | B2 | Mampu mengerti inti makna dari naskah/artikel yang kompleks, kongkrit maupun abstrak termasuk diskusi teknis dalam bidang keahliannya. Mampu berinteraksi dengan kelancaran tertentu dan spontan sehingga bisa bergaul dengan masyarakat penutur bahasanya dengan santai. Mampu menulis dengan jelas dan rinci suatu makalah/artikel/tulisan tentang bermacam-macam hal dan menjelaskan beberapa pokok dalam topik-topik tertentu dengan menunjukkan untung ruginya untuk tiap-tiap pilihan (opsi). | | B1 | Mampu memahami pokok-pokok penting dari suatu standar baku mengenai hal-hal yang sudah lazim ditemui di pekerjaan, di sekolah, di waktu wisata, dll. Mampu mengatasi situasi yang mungkin timbul di daerah dimana bahasa tersebut dipakai. Mampu menuliskan topik-topik yang berhubungan satu sama lain yang sudah lazim ataupun yang menarik perhatian. Mampu memaparkan pengalaman-pengalaman dan kejadian-kejadian, impian-impian, harapan-harapan dan ambisinya serta secara singkat memberikan alasan-alasan dan penjelasan-penjelasan tentang pendapat dan rencananya. | | Pemakai Dasar | A2 | Mampu memahami kalimat-kalimat maupun ungkapan-ungkapan yang sering dipakai dalam kehidupan sehari-harinya (seperti tentang pribadi dan keluarganya, dalam berbelanja, geografi/peta, dan pekerjaan). Mampu berkomunikasi dalam hal-hal yang sederhana dan bersifat tugas-tugas rutin yang memerlukan tukar menukar informasi yang lugas dan langsung dalam hal-hal yang sudah lumrah dan rutin. Mampu memaparkan secara sederhana mengenai latar belakangnya, sekitarnya dan hal-hal yang paling diperlukannya. | | A1 | Mampu memahami dan memakai dasar ungkapan-ungkapan dan ekspresi-ekspresi keseharian untuk memenuhi kebutuhan nyata dirinya. Mampu memperkenalkan dirinya maupun orang lain dan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang dirinya, seperti dimana tempat tinggalnya, orang yang dia kenal serta apa yang kira-kira mereka miliki. Mampu berinteraksi secara sederhana selama lawan bicaranya bertutur perlahan-lahan, jelas dan siap membantu. | (*) Diterjemahkan oleh : Hadiwaratama
Last update : 31-03-2010 09:41
|
|
|
xfad230
By: xfad230 () on 24-06-2010 03:50