| By Hadiwaratama,
on 17-03-2010 16:12
|
BAHASA IBU DAN AKSARANYA Oleh : Hadiwaratama
Umumnya kita tidak memperhatikan bahwa tanggal 21 Februari telah dideklarasikan oleh UNESCO sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional yang merupakan pengakuan internasional terhadap Hari Gerakan Bahasa yang selalu diperingati sejak tahun 1952 di Pakistan Timur, sekarang Bangladesh. Deklarasi itu dilakukan pada tanggal 17 Nopember 1999. Tanggal 21 Februari 1952 adalah peristiwa berdarah dalam demonstrasi perjuangan pengakuan bahasa Bengali di Dhaka yang memakan korban jiwa para mahasiswa. Demonstrasi ini sebagai reaksi ditetapkannya bahasa Urdu sebagai satu-satunya bahasa resmi di Pakistan oleh Mohammad Ali Jinnah, Gubernur Jenderal Pakistan saat itu, padahal bahasa Pakistan Timur adalah bahasa Bengali.
Makna Bahasa Ibu. Untuk lebih mudah memahami makna bahasa ibu kita bisa lihat melalui konteks ke Indonesiaan. Masyarakat di Indonesia, khususnya yang di daerah-daerah pedesaan, kampung-kampung, kota-kota kecil bahkan kota-kota besar yang terletak didaerah etnisitas tertentu, adalah bilingual. Mereka menguasai 2 bahasa, yaitu bahasa yang mereka gunakan dalam kehidupan sosial antar sesama penutur bahasa daerahnya dan bahasa Indonesia sebagai bahasa kegiatan sosial maupun resmi antar sesama warganegara tanpa melihat asal usul etnisitasnya. Secara umum boleh dikatakan bahasa daerah yang mereka kuasai dan gunakan tersebut merupakan bahasa ibu mereka. Kenyataan yang kita pahami di Indonesia, bahasa ibu selalu dikaitkan dengan bahasa daerah yang dituturkan oleh suatu kelompok etnis tertentu yang memilikinya. Tidaklah demikian bagi orang pribadi. Sedikitnya ada 5 definisi tentang bahasa ibu, namun akan penulis rumuskan sesuai yang penulis alami. Bahasa ibu adalah bahasa yang dikuasai dan dipakai seseorang sejak umur balita dan merupakan bahasa pertama yang tak terhapuskan oleh bahasa baru yang dikuasainya dikemudian hari. Contoh, anak balita yang kedua orang tuanya Jawa misalnya, tetapi bergaul dengan sesamanya yang berbahasa Sunda akan dengan cepat menyerap bahasa Sunda sebagai bahasa hariannya. Bila anak tersebut sampai dewasa tetap berbahasa Sunda sebagai bahasa pertamanya maka bahasa ibunya adalah bahasa Sunda. Bahasa ibu akan sungguh meresap didalam kejiwaan, perilaku dan penalaran seseorang. Kita akan berpikir, berasa dan berkarsa, bahkan melamunpun dalam bahasa ibu. Bahasa ibu akan terpakai secara spontan oleh penuturnya dan bagi orang pribadi tidak bisa serta merta dikaitkan dengan asal usul etnisitasnya. Masa balita akan lebih banyak menentukan bahasa ibu seseorang. Dalam masa balitalah seseorang mudah menyerap maupun kehi langan suatau bahasa.Sekalipun belum besar prosentasenya, sebenarnya banyak generasi muda kita yang sudah berbahasa ibu Indonesia, terutama di kota-kota besar. Itu sebabnya para ahli linguistik membuat batasan umum bahwa suatu bahasa akan dalam bahaya kepu nahan bila sedikitnya 30% anak-anak masyarakat penuturnya sudah tidak lagi mempelajari dan memakainya. Ada juga yang membuat ketentuan kelanggengan suatu bahasa ditentukan oleh jumlah minimal pemakainya. Catatan Unesco menyebutkan dari sekitar 6000 bahasa didunia, lebih dari setengahnya berpotensi dalam bahaya kepunahan. Bahasa-bahasa Nusantara. Dalam tulisan ini, yang penulis maksud bahasa ibu adalah bahasa-bahasa Nusantara yang umum kita kenal sebagai bahasa-bahasa daerah, yang dipakai secara aktif oleh penutur-penutur yang terkait dengan etnisitasnya, dimanapun mereka berada. Entah tepatnya ada berapa ratus bahasa ibu di Nusantara ini, ada yang menyebutkan 250 ada yang 300 lebih, mungkin Pusat Bahasa punya catatannya. Yang paling menghadapi bahaya tentunya yang penuturnya sedikit yang akan punah bersama sama kelompok penuturnya, terutama di daerah-daerah terpencil, seperti dipedalaman Papua dan lain-lain. Lebih lebih bagi kelompok masyarakat yang belum mengenal budaya baca-tulis. Di Nusantara, bahasa ibu yang terbesar jumlah penuturnya adalah bahasa Jawa, sekitar 80 juta yang sebarannya sampai ke Suriname dan Numea dan merupakan suatu kelompok etnis terbesar di Asia Tenggara. Dari jumlah penutur, bahasa Jawa menduduki peringkat 11, sedang bahasa Indonesia/Melayu menduduki peringkat 6 dari sekitar 6000 bahasa di dunia tersebut. Kedua terbesar adalah bahasa Sunda dengan penutur kurang lebih 40 juta di Tatar Parahyangan, Jawa Barat. Tiap bahasa juga memiliki variannya. Hanya beberapa bahasa saja di Nusantara yang memiliki aksara tradisionalnya yaitu Aceh, Batak, Rejang Lebong, Sunda, Jawa, Bali dan Bugis/Makasar, dan semua nya bersifat Indic atau Brahmic. Artinya aksara-aksara tersebut bersifat syllabary dimana bunyi vocal “a“ sudah melekat (inherent) di masing-masing konsonannya, dan sudah merupakan suku kata yang hidup. Aksara aksara semacam itu sebarannya di Asia Selatan dan Tenggara. Beda dengan abjad Latin yang tiap konsonannya masih mati sebelum ditambah aksara vocal dibelakangnya. Tinggal aksara Batak yang masih dalam proses registrasi di Unicode supaya bisa masuk dalam sistem komputer dunia, sedang aksara tradisional Aceh sudah punah. Hanya dengan aksara tradisionalnya masing-masinglah bahasa-bahasa ibu tersebut bisa ditulis dengan tepat tanpa ambigu. Sekalipun dapat ditulis dengan aksara Latin, namun secara ilmiah kurang tepat karena asas penulisan aksara Indic ini sangat berbeda dengan Latin. Tiap suara secara physiologis direpresentasikan dalam suatu aksara. Yang terakhir masuk dalam sistem komputer dunia, artinya tiap aksara dan perangkatnya sudah punya alokasi alamat masing-masing, adalah aksara Carakan Jawa, yang telah resmi terdaftar di Unicode sejak tgl 2 Oktober 2009. Artinya sejak tanggal tersebut para programmer sudah bisa dengan pasti membuat program komputerisasinya. Aksara ini jumlahnya 50 buah, termasuk 9 vokal, 2 diftong dan 5 semivokal, paling lengkap persis aksara Bali. Bedanya aksara Bali masih hidup dipakai sampai kini sesuai kebutuhan budaya dan agamanya, sedang aksara Jawa sudah me-layu. Sayang launching masuknya aksara Jawa kedalam sistem komputer dunia yang rencananya dilakukan pada hari Bahasa Ibu Internasional ini mengalami penundaan. Harapan. Sebagai bahasa ibu, bahasa daerah punya hak hidup, karena hal itu juga termasuk HAM bagi para penuturnya. Sumpah Pemuda kita tahun 1928 termasuk ikrar untuk menjunjung tinggi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa nasional. Kita tentunya juga maknai masih tetap lestarinya bahasa-bahasa ibu Nusantara beserta aksara-aksara nya. Mudah-mudahan pemelajaran berbahasa ibu bisa digalakkan lagi, segalak masa pra proklamasi ! Bandung, 21 Februari 2010 Hadiwaratama, ex Ketua Team Kecil Inventarisasi & Pendaftaran aks Jawa ke Unicode Last update : 31-03-2010 09:41
|
|
|