Home

logo

Login

Artikel

Pengunjung

mod_vvisit_counterHari ini10
mod_vvisit_counterMinggu ini1403
mod_vvisit_counterBulan ini885
mod_vvisit_counterTahun ini51939
Tampilan terbaik pada resolusi 1024x768, browser: Firefox, Chrome
KEBERBAHASAAN YANG TAK TERKEDEPANKAN
 

By Hadiwaratama, on 20-04-2010 16:00

KEBERBAHASAAN YANG TAK TERKEDEPANKAN
                                               
            
Mengungkapkan sesuatu dalam paparan tulis rupanya masih merupakan hambatan umum terutama bagi mereka yang tidak terlatih dan terbiasakan dalam membuat karya tulis. Ini menyangkut kemampuan berbahasa. Berbahasa adalah kemampuan yang paling mendasar yang diperlukan manusia dalam menjalin komunikasi antar sesama sejak lahir sampai akhir hayatnya. Awalnya berbahasa berbentuk isarat, lama kelamaan semakin terstruktur dalam ucapan, kemudian berkembang menjadi suatu kalimat. Begitulah kebiasaan itu melekat secara verbal dalam keseharian kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu orang menganggap berbahasa itu adalah hal yang alamiah belaka, tak perlu upaya upaya khusus untuk melakukannya. Kita lupa bahwa dalam masyarakat yang semakin berbasis ilmu pengetahuan itu juga semakin menuntut kemampuan ketepatan berbahasa, baik lisan maupun tulis. Berbahasa tidak hanya semata mata sebagai media komunikasi, tetapi juga media artikulasi ataupun ekspresi diri tentang apa yang dipikirkan, dirasakan dan yang dikehendaki. Kita sering mendengar ungkapan-ungkapan yang luput dari pemaknaan kita, yaitu olah cipta, rasa, karsa yang berujung pada olah karya. Itu bukanlah semata mata ungkapan puitika belaka, yang indah ditelinga. Maknanya amat dalam. Mengapa demikian ? Dalam era berbasis ilmu pengetahuan, kita dituntut untuk mampu mengelola apapun yang telah kita hasilkan dari olah cipta/penalaran, rasa/emosi, karsa/semangat dan olah karya serta akumulasi pengalaman-pengalaman yang telah kita miliki. Pengalaman adalah guru terbaik, dalam kegagalan maupun keberhasilan. Oleh karena itu kemampuan berbahasa, terlebih lebih dalam berbahasa tulis, mutlak diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat maju.

Keberbahasaan, media utama dalam bermasyarakat maju
Dalam kegiatan keilmuan, keberbahasaan adalah media utama bagi manusia dalam menyusun alur pikir yang analitik maupun sintetik untuk menuju alternatif-alternatif kesimpulan dari suatu yang dipikirkan atau dipermasalahkan. Bahwa untuk itu kita juga perlu media lain untuk melengkapinya, tentu mudah dipahami karena merupakan konsekwensi dari tata pikir yang disusun. Media lain tersebut bisa berbentuk angka-angka, simbul-simbul, rumus-rumus ataupun persamaan matematika, grafik, diagram, bahkan gambar. Kemampuan berbahasa adalah wahana utama seseorang dalam mempertanyakan tentang sesuatu yang menjadi perhatiannya. Mempertanyakan tentang sesuatu berarti mencari jawab dari pertanyaan-pertanyaan tentang : apa, siapa, mengapa, dimana, kapan dan bagaimana, yang terkait dengan sesuatu yang menjadi perhatian tersebut. Kekurang mampuan berbahasa berarti kekurang mampuan dalam berpikir kritis. Budaya lisan memang juga dapat menghasilkan budaya kritis. Tetapi dengan lisan saja bagaimana menyatakan dan mendokumentasikan media-media lain yang diperlukan dalam penalaran analitik dan sintetik diatas, terlebih-lebih yang menyangkut hukum-hukum alam ?
Kenyataan dilapangan menunjukkan, bahwa kemampuan tulis untuk pendokumentasian pengetahuan dan kemahiran yang didapat dari berpuluh tahun pengalaman nyata, merupakan hambatan utama untuk pengelolaannya. Ini indikasi bahwa kepakaran dari berbagai tataran yang perlu dikelola dan dikembangkan justru akhirnya hanya akan lenyap terbawa mati, karena masing-masing tidak mampu menuangkannya dalam tulisan. Padahal sumber daya yang terbarukan dan tak terhabiskan adalah kepakaran itu sendiri, yang akan merupakan sumber kehidupan insani global.

Kedepankan Kemampuan Berbahasa.
Keberbahasaan adalah kemampuan mendengarkan/menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Itu memerlukan upaya sadar, yang berarti terprogram, dan dilaksanakan secara sungguh-sungguh dan konsisten. Mengapa demikian? Ini masalah pembentukan kebiasaan/habit forming yang berujung pada budaya. Berpuluh tahun kita telah merdeka, tetapi masih didominasi oleh budaya lisan. Budaya baca dan tulis masih belum secara sungguh-sungguh diupayakan, masih jauh panggang dari api. Habit forming dalam baca tulis berarti betul-betul membiasakan membaca dan menulis. Bagaimana bisa menulis kalau tidak gemar membaca? Pangkalnya adalah banyak membaca! Begitu juga untuk guru dan profesi-profesi lainnya. Keberbahasaan meliputi kemampuan nyata dalam menyatakan sesuatu sesuai derajat kesulitannya, yang tersurat maupun yang tersirat, sejak yang sederhana sampai yang kompleks, yang hakekatnya terkait dengan intelektualitas, emosionalitas maupun spiritualitas. Keberbahasaan bukan hanya masalah Ilmu Bahasa dan Gramatika, tetapi masalah kebiasaan berbahasa. Dalam berbahasa juga melekat/inherent didalamnya masalah tata nilai dan sopan santun. Karena itu kita kenal istilah budi bahasa, dan perwujudannya antara lain tercerminkan dalam sidang-sidang angket kasus Century yang tertayangkan di TV beberapa waktu yang lalu.

Kesimpulan.
Tidak ada dalih apapun yang kita bisa pakai untuk tidak siap mengedepankan keberbahasaan yang teruji, kalau kita betul-betul memikirkan masa depan. Ini adalah garda utama masa depan bangsa dengan biaya yang paling terjangkau. Kedepankan guru-guru bahasa. Latih dan didik mereka sebaik-baiknya sehingga menghasilkan karya yang membanggakan, yaitu peserta didik yang berkebahasaan. Kehilangan kemampuan berbahasa adalah kehilangan masa depan. Itulah masalah utama kita sampai saat ini. Semoga anak bangsa mahir berbahasa !

Bandung, 23 Maret 2010
Hadiwaratama
Anggauta Kelompok Studi Pendidikan Berkualitas Ganeshana, Bandung.
 

 
 

Kerangka Umum Referensi Pemelajaran Bahasa-bahasa di Eropa (*)

yang menjelaskan secara rinci kemampuan yang harus dicapai (kompetensi) seseorang dalam membaca, menyimak/mendengarkan dan menulis dalam tiap jenjang.

 

Pemakai Profesional

C2

Mampu mengerti dengan mudah apa yang didengar dan dibacanya melalui imaginasinya. Mampu menyimpulkan informasi dari berbagai sumber, lisan maupun tertulis, dan menyusun kembali dalam suatu uraian yang memuaskan dan masuk akal. Mampu menyatakan pendapatnya dengan lancar dan tepat secara spontan/seketika, mampu memilah makna yang tersirat dari wacana yang kompleks sekalipun.

C1

Mampu mengerti dan mampu mengenali yang tersirat dalam naskah/artikel/kalimat panjang yang luas lingkupnya/cakupannya dan sangat menuntut perhatian. Mampu menyampaikan pendapatnya secara seketika tanpa mencari-cari bagaimana cara menyatakannya. Mampu berbahasa secara luwes dan efektif dalam pergaulan di masyarakat maupun dalam keperluan akademik dan profesional. Mampu menyusun secara jelas, tepat dan rinci suatu naskah/teks yang memuat hal-hal yang kompleks dengan menunjukkan penggunaan kendali pola organisasi, penghubung dan perangkat pelekatnya.

Pemakai Bebas

B2

Mampu mengerti inti makna dari naskah/artikel yang kompleks, kongkrit maupun abstrak termasuk diskusi teknis dalam bidang keahliannya. Mampu berinteraksi dengan kelancaran tertentu dan spontan sehingga bisa bergaul dengan masyarakat penutur bahasanya dengan santai. Mampu menulis dengan jelas dan rinci suatu makalah/artikel/tulisan tentang bermacam-macam hal dan menjelaskan beberapa pokok dalam topik-topik tertentu dengan menunjukkan untung ruginya untuk tiap-tiap pilihan (opsi).

B1

Mampu memahami pokok-pokok penting dari suatu standar baku mengenai hal-hal yang sudah lazim ditemui di pekerjaan, di sekolah, di waktu wisata, dll. Mampu mengatasi situasi yang mungkin timbul di daerah dimana bahasa tersebut dipakai. Mampu menuliskan topik-topik yang berhubungan satu sama lain yang sudah lazim ataupun yang menarik perhatian. Mampu memaparkan pengalaman-pengalaman dan kejadian-kejadian, impian-impian, harapan-harapan dan ambisinya serta secara singkat memberikan alasan-alasan dan penjelasan-penjelasan tentang pendapat dan rencananya.

Pemakai Dasar

A2

Mampu memahami kalimat-kalimat maupun ungkapan-ungkapan yang sering dipakai dalam kehidupan sehari-harinya (seperti tentang pribadi dan keluarganya, dalam berbelanja, geografi/peta, dan pekerjaan). Mampu berkomunikasi dalam hal-hal yang sederhana dan bersifat tugas-tugas rutin yang memerlukan tukar menukar informasi yang lugas dan langsung dalam hal-hal yang sudah lumrah dan rutin. Mampu memaparkan secara sederhana mengenai latar belakangnya, sekitarnya dan hal-hal yang paling diperlukannya.

A1

Mampu memahami dan memakai dasar ungkapan-ungkapan dan ekspresi-ekspresi keseharian untuk memenuhi kebutuhan nyata dirinya. Mampu memperkenalkan dirinya maupun orang lain dan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang dirinya, seperti dimana tempat tinggalnya, orang yang dia kenal serta apa yang kira-kira mereka miliki. Mampu berinteraksi secara sederhana selama lawan bicaranya bertutur perlahan-lahan, jelas dan siap membantu.


(*) Diterjemahkan oleh : Hadiwaratama

Last update : 21-04-2010 09:37

   

Users' Comments  
 

Average user rating

 

Display 1 of 1 comments

fMKmICiPkowIqkRwm

By: ucmrtwqhiqx () on 28-06-2010 01:24

fMKmICiPkowIqkRwm

By: ucmrtwqhiqx on 28-06-2010 01:24

nhPIQE jtqfyapmhygg, [url=http://dablmpylnhqs.com/] dablmpylnhqs[/url], [link=http://foejonuwloll.com/ ]foejonuwloll[/link], http://udbgzsbnwcfb.com/

 

» Report this comment to administrator

» Reply to this comment...

Display 1 of 1 comments



Add your comment
Name
E-mail
Title  
Comment
 
Available characters: 500
 
   
   



mXcomment 1.0.6 © 2007-2010 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
Next >